15 Oktober, 2020

Enola Holmes (2020), Kisah Adik Perempuan Sherlock Holmes

Kisah Adik Perempuan Sherlock Holmes.jpg

Mungkin diantara kalian ada yang sudah tahu dengan Sherlock Holmes, karakter fiktif yang diciptakan oleh Sir Arthur Conan Doyle. Karakter yang merupakan seorang detektif dengan gaya deduksinya ini memang sudah sangat populer. Namun, kali ini kita tidak akan membahas film Sherlock Holmes melainkan adik perempuannya, Enola Holmes, film tersebut juga berjudul "Enola Holmes".

"Enola Holmes" dirilis di layanan streaming Netflix pada 23 September 2020. Film ini disutradarai oleh Harry Bradbeer dengan skenario yang ditulis oleh Jack Thorne. Ceritanya sendiri mengadaptasi sebuah buku berjudul The Enola Holmes Mysteries: The Case of the Missing Marquess karya Nancy Springer. Enola Homes sendiri bukanlah karakter ciptaan Sir Arthur Conan Doyle. Sir Arthur tidak pernah menciptakan saudara perempuan bagi Sherlock, Enola adalah ciptaan Springer yang meminjam kisah Sherlock karya Sir Arthur sebagai latar belakangnya.

Film ini diproduksi oleh Netflix, Legendary Pictures dan PCMA serta dibintangi oleh Millie Bobby Brown sebagai Enola Holmes, Henry Cavill sebagai Sherlock Holmes, Sam Claflin sebagai Mycroft Holmes, Helena Bonham Carter sebagai Eudoria Holmes, Louis Partridge sebagai Viscount Tewkesbury, Burn Gorman sebagai Linthorn, Adeel Akhtar sebagai Lestrade, Susie Wokoma sebagai Edith, Hattie Morahan sebagai Lady Caroline Tewkesbury dan David Bamber sebagai Sir Whimbrel Tewkesbury.

Uniknya, Millie Bobby Brown yang menjadi pemain utama juga turut menjadi produser di film "Enola Holmes". Menjadikannya salah satu aktris termuda yang memproduseri film yang ia bintangi sendiri. Millie saat menjadi produser di "Enola Holmes" berusia 16 tahun. Kalian saat umur segitu sudah melakukan apa? 😅

Sinopsis: Suatu ketika, Enola Holmes terbangun dan mendapati ibunya sudah tidak ada dirumahnya, ibunya pergi meninggalkan Enola tanpa alasan yang jelas. Perginya sang ibu membuat Enola menghubungi dua saudaranya yang sudah lama tidak ia temui, Sherlock dan Mycroft. Kepergian ibunya membawa Enola untuk menemukan jati dirinya dan berhadapan dengan pihak-pihak yang berbahaya.

Review No Spoiler!

Saya belum banyak menonton film ataupun serial televisi adaptasi kisah Sherlock Holmes, sejauh ini baru serial televisi "Sherlock" versi Benedict Cumberbatch dan film "Sherlock Holmes" tahun 2009 versi Robert Downey Jr. yang sudah saya tonton. Keduanya punya kualitas yang keren hampir di segala aspek. Ketika saya akan menonton adaptasi kisah Sherlock Holmes lainnya, bahkan jika fokus utamanya bukan ke Sherlock Holmes, saya berekspektasi mendapatkan kualitas tontonan setara atau bahkan lebih baik dari serial tv dan film yang saya sebutkan tadi. Bagaimana hasilnya dengan "Enola Holmes"?

"Enola Holmes" tidaklah begitu spesial, atau bahkan jauh dari kata spesial. Yang paling saya sorot adalah bagaimana pemecahan kasus di film ini terkesan amat sangat tidak menarik bahkan bisa saya bilang terlalu mudah ditebak. Jujur, saya sudah bisa menebak siapa dalang utamanya saat kemunculan pertama si karakter yang menjadi dalang utamanya tersebut muncul di layar. Meskipun sebenarnya saya hanya menduga-duga karena bukan hanya karakter tersebut yang saya curigai namun saya paling yakin pada karakter tersebut dan akhirnya terbukti memang dia biang keladinya. Sebenarnya, tidak masalah dengan film detektif semacam ini dimana saya bisa menebak siapa antagonis utamanya tapi yang jadi masalah dengan "Enola Holmes", eksekusi pemecahan kasusnya sampai terungkap siapa antagonis utamanya tidak begitu menghibur.

"Enola Holmes" juga menyuguhkan gaya menembus dinding ke-4, istilah untuk sebuah film dimana karakternya seakan berbicara pada penonton. Saya tidak masalah dengan hal ini, di "Deadpool" saya asyik-asyik saja menikmati bagaimana si jagoan utama ngebacot ke penonton. Sayangnya di "Enola Holmes" entah kenapa saya jadi kurang suka, agak mengganggu, menambah kesan lucu pun tidak sama sekali. Semua itu diperparah dengan dialog-dialog sok mendramatisir namun tidak mengena di saya.

Film "Enola Holmes" yang memang dasarnya memiliki karakter utama seorang perempuan sangat dimaklumi dibumbui dengan unsur feminisme. Tapi, tenang saja unsur feminismenya bukan yang berat-berat kok, hanya soal bagaimana wanita bebas memilih jalan hidupnya, tidak sampai ke yang menunjukkan pembebasan kaum perempuan dari penindasan secara fisik.

Millie Bobby Brown adalah seorang aktris muda berusia 16 tahun yang sepertinya kariernya akan terus naik di perfilman maupun serial televisi. Saya pertama kali melihatnya di "Stranger Things" sebagai Eleven, penampilannya di serial televisi Netflix tersebut memang luar biasa dan membuat semua orang tak ragu kalau Millie memang punya bakat akting kelas wahid. Kemudian saya kembali menyaksikannya di "Godzilla: King of the Monsters", dimana ia juga tampil sangat baik sesuai porsinya disana. Di "Enola Holmes" ia memerankan karakter Enola yang penokahnnya jauh berbeda dari karakter yang ia perankan di "Stranger Things" maupun "Godzilla: King of the Monsters". Enola lebih ceria dan aktif, ditambah gaya menembus dinding ke-4 yang harus Millie mainkan tentu saja tidak mudah. Memang untuk bagaimana ia berbicara ke penonton bagi saya masih kurang, tapi yang lainnya sudah lebih dari cukup untuk seorang aktris dengan jenis karakter baru yang ia mainkan.

Film "Enola Holmes" kabarnya sempat digugat oleh pihak pemilik hak cipta cerita Sherlock Holmes atau siapa itulah saya lupa lagi, penyebabnya karena karakter Sherlock Holmes di film ini jauh dari apa yang digambarkan sang pencipta, Sir Arthur. Sherlock di film ini lebih hangat sementara Sherlock asli buatan Sir Arthur lebih dingin dan tak berperasaan. Setelah menontonnya saya memang melihat perbedaan yang begitu kentara antara Sherlock di film ini dengan Sherlock versi Benedict Cumberbatch yang begitu dingin dengan wajah datarnya. Jadi, yang patut disalahkan memang penokohannya, karena akting Henry Cavill sebenarnya baik-baik saja, bahkan saya yakin jika ia dituntut memainkan Sherlock seperti versi Benedict Cumberbatch, ia tidak akan kesulitan.

Satu hal yang membuat saya bisa bertahan menonton film ini sampai selesai adalah karena visualnya yang memang tidak murahan, apalagi latar waktu dan tempatnya adalah Britania abad ke-18, lebih tepatnya tahun 1884 jika merujuk pada koran di film ini. Saya selalu suka film-film dengan latar Britania tempo dulu, meskipun kabarnya ada ketidak akuratan cerita pada film ini namun bagi saya masa bodo dengan hal itu, walaupun saya menyukai film-film dengan latar Britania tempo dulu saya tidak terlalu tahu betul sejarah-sejarahnya, saya hanya suka nuansanya, bangunannya, pakaiannya dan lain sebagainya.

Untuk kalian yang merupakan penggemar berat Sherlock Holmes mungkin akan suka dan penasaran dengan film ini, meskipun begitu akan tetup muncul berbagai opini terkait penggambaran karakter Sherlock Holmes disini, sebagian mungkin suka sebagian lagi tidak.

Baca juga: No Escape (2015), Upaya Keluar dari Negara Konflik

Overall, saya pribadi tidak terlalu nyaman dengan keseluruhan ceritanya, aktingnya lumayan hanya penokohan karakternya yang memang bermasalah. Meskipun begitu, "Enola Holmes" masih memberikan sesuatu di visualnya dan tentu saja akan menarik untuk kalian penggemar Sherlock Holmes.

Nilai: 5/10

Sumber gambar:
www.imdb.com

Keywords: Review & Ulasan Film 12345, Informasi Lengkap, Daftar Pemain Kru, Fakta Unik, Trivia, Penghargaan, Sinopsis, Full Movie Download Subtitle Indonesia, Bluray, Mp4, Mkv, Avi, DVDRip, HD, IMDb, Wikipedia, Rotten Tomatoes, Review, Ulasan, Rating, Nilai, Plot, Sub Indo, Nonton Online Streaming, Trailer, netflix

0 komentar:

Posting Komentar