17 Agustus, 2020

Review Film Bullhead (2011)


moronmovie NEITHER A MAN NOR A BEAST, WHAT ELSE COULD ONE BE?

Jika saya susah melupakan nama tokoh film, hampir pasti hal itu karena cerita dan atau deritanya begitu membekas. Jacky Vanmarsenille dari Bullhead adalah salah satu tokoh tersebut.

Secara umum, film nominasi oscar ini memang terbilang unik. Selain mengusung cerita tak lazim tentang dunia mafia hormon di Belgia, film ini juga menyoroti karakter studi dari seorang peternak sapi bernama Jacky, yang anehnya ikut mengkonsumsi hormon ilegal yang dikhususkan untuk hewan ternak. Kenapa? Alasan tersebut akan dijawab dengan adegan off-camera yang akan membuat penonton sakit perut dan merasa tidak nyaman. Salah satu eksekusi terbaik yang pernah saya liat, tanpa darah dan hanya berbekal imagery.

Pemeran utama film ini bisa dibilang adalah performa fisik Schoenaerts. Tubuh besar berotot dipadukan dengan mimik sayu menciptakan semacam paradoks pada diri Jacky – menyiratkan adanya pergolakan batin. Berdasar keadaan Jacky dan masa lalunya, masuknya unsur binatang di sini tidak terkesan seperti metafora, lebih seperti ironi. Batas antara Jacky dan hewan ternaknya menjadi abstrak dan naskah mampu menggiring penonton untuk berempati, meski kepribadian Jacky sendiri tidaklah menyenangkan. Tunggu hingga akhir, ada satu dialog luapan emosi dari Jacky yang begitu istimewa bagi saya. Tidak meledak-ledak, justru lirih dan lembut, tiap kata terasa menyakitkan.

Saya suka nuansa gelap yang diterapkan di sepanjang film – memberi exposure lebih ke latar suasana kisah Jacky. Premis crime dan detektif yang dibawa juga, seperti biasa, membuat cerita menarik diikuti. Pun beberapa tokoh lain tidak kalah complex dari Jacky. Hanya saja, sisi crime film ini sedikit terasa overplotting. Detil tidak perlu kerap hadir dan berakhir setengah matang.

Terlepas hal minor itu, kedua tema Bullhead mampu melebur menjadi sajian yang memicu baik sensasi fisik maupun pskis. Porsi karakter studi Jacky pun adalah salah satu favorit saya. Sederhananya, berani dan original, dua hal yang makin langka di lanskap perfilman masa kini.

Rotten Tomatoes: 86% (70 critics)

#bullhead #moroncrime #trauma ##filmbagus #rekomendasifilm #filmtahunbaru

12 Agustus, 2020

Review Film Burning (2018)


NOT EVEN A MASTERPIECE CAN STOP KOREA'S OSCAR CURSE

BLACKPINK merajalela, BTS mendunia, film Korea dimana-mana. Tapi, Korea belum pernah menembus kategori Best Foreign Language Oscar. Paling dekat adalah Burning, berhasil masuk 9 besar. Tetap saja, film ini terlalu bagus dan 'misterius' untuk tidak dikenal lebih luas.

Misteri datang sedari awal ketika seorang delivery boy bernama Jong-su (Ah-in) bertemu gadis bernama Hae-mi (Jong-seo) yang 'mengaku' mengenalnya. Tidak lama, ia memperkenalkan Jong-su pada Ben (Yeun), pria kaya nan karismatik.

Burning memang seperti lukisan abstrak. Reaksi orang hanya ada dua, suka dan tidak. Bagi saya, Burning berhasil berkesan karena dari awal saya tidak mengharapkan plot. Saya siap mempelajari tokoh Jong-su frame demi frame, terutama interaksi pasif-agresif nya dengan Ben dan Hae-mi, yang juga penuh dengan teka-teki. Mengambil isu status sosial sebagai fondasi utama, berbagai metafora dan dialog sengaja makin menjelaskan gap antara Jong-su dan Ben, seperti ada tensi tidak terucap tapi siap meledak kapan saja. Suara-suara pada background pun turut menyumbang kesan 'genting' meski seakan tidak bermakna: mulai dari bising perkotaan, propaganda Korea Utara, hingga Trump. Tangkapan kamera? Begitu artistik, cukup menghibur mengingat film ini memang slow burning.

Tidak ada yang benar-benar 'terbakar' kecuali rasa jengkel dan penasaran penonton. Saya, sama seperti Jong-su, merasa iri pada Ben. Kemudian ketika sesuatu terjadi, saya juga ikut paranoid dan penuh asumsi atas apa yang terjadi. Semua build-up ini akan berakhir pada adegan final yang saya yakin susah dilupakan dan, ya, makin membuat jengkel. Film ini merangsang emosi tapi begitu lama untuk mencapai klimaks, jika ada sekalipun. Ending film bisa jadi adalah awal sebenarnya, seperti selesai menonton The Wailing (2016). Sensasi seperti ini yang jarang saya rasakan dengan hanya menonton film – membuat kita menjadi bagian dari konflik, bukan sebatas objek untuk melihatnya tamat.

Saya tidak tau dengan Oscar, bagi saya film 'pengganggu mental' seperti ini lebih tinggi dari 9 besar.

Rotten Tomatoes: 95% (131 critics)

#burning #moronthriller #filmkorea #yooahin #stevenyeun

09 Agustus, 2020

Review Film Capernaum (2018)


POVERTY PORN? THINK AGAIN

Banyak kritikus melabeli nominee Oscar ini manipulatif dan hanya mengeksplorasi kemiskinan demi perhatian. Tapi, bukankah topik ini bukan hal baru? Pun seingat saya City of God (2003) dan The Florida Project (2017) tidak mendapat perlakuan yang sama.

Capernaum memang berfokus pada beragam isu kemiskinan yang terasa begitu dekat, meski ber-setting di Lebanon. Tokoh utama yang akan memandu kita dalam cerita penuh emosi ini adalah Syrian refugee bernama Zain Al Rafeea (juga berperan sebagai Zain) – anak laki-laki dari keluarga super miskin namun memiliki banyak anak. Saya suka awal film ini yang langsung melempar misteri ke penonton. Pasalnya, Zain menuntut orang tuanya di pengadilan karena telah memberinya kehidupan. Kenapa?

Perjalanan menemukan jawaban pertanyaan di atas tidak akan mudah. Labaki seakan menolak menggunakan filter untuk menampilkan keadaan. Terlebih, hand-held camera kerap membuat saya lupa bahwa film ini bukanlah dokumenter. Zain, tanpa pengalaman akting, seakan menyatu dengan tokoh yang diperankan. Bahkan di beberapa scene saya merasa bahwa Zain tidak berakting, namum meminta tolong atas situasi yang secara nyata ia lalui.

Mulai dari isu imigrasi, child labour, hingga pernikahan dini, Capernaum memang terkesan terlalu penuh. Namun, saya tidak merasa adanya kesan ekploitasi di cerita. Jika iya, alur pasti akan dibuat cepat demi menjubali lebih banyak isu. Nyatanya, alur justru melambat di tengah untuk memperjelas konteks cerita, terutama pada tokoh bernama Tigesh (Shiferaw). Film ini peduli untuk memberi build-up yang cukup agar penonton siap menghadapi paruh akhir yang memang emosional, lengkap dengan final shot yang "speak louder than words". Alasan lain untuk menonton film ini adalah hadirnya bayi super menggemaskan bernama Yonas. Tingkah polahnya cukup mengalihkan kesan kelam sepanjang film.

Film memang bisa menghibur atau menampar para audiens. Capernaum jelaslah bukan kategori pertama. Mengingat film ini dibuat berdasar riset mendalam, para haters mungkin memang belum siap menerima realita.

Rotten Tomatoes: 89% (140 critics)

#morondrama #kemiskinan #filmsedih #mengharukan #lebanon #realita #kehidupan

06 Agustus, 2020

Review Film Foxtrot (2017)


ONE OF THE BEST FILMS ABOUT GRIEF EVER, SIMPLY PAINFUL.

Ironis memang melihat kata penderitaan dan Israel disandingkan bersama. Situasi politik dan media membuat semua orang memiliki pandangan negatif terhadap negara satu ini, tidak terkecuali saya. Meski demikian, saya tetap saja terluka melihat Foxtrot. Mungkin benar kata orang jika suka dan duka adalah bahasa universal.

Film ini sendiri diceritakan lewat 3 bagian. Pada bagian pertama, beberapa pasukan Israel mengetuk pintu apartemen seorang arsitek bernama Michael (Ashkenazi), diikuti dengan sang istri, Dafna (Adler), yang pingsan seketika. Pasalnya, anak laki-laki mereka, Jonathan (Shiray), baru gugur dalam perang.

Saya suka bagaimana sang sutradara tidak membuang waktu dan langsung memberi rasa sakit di momen pertama. Terlebih, reaksi dan akting Ashkenazi begitu memicu emosi. Dari tertegun, bingung, hingga marah, penonton ikut merasakannya perlahan. Aspect ratio 2,35: 1 yang berpadu dengan banyak close up pun makin memberi kesan dekat dan mencekik.

Pada bagian kedua, film beralih ke medan perang dan mengikuti keseharian Jonathan. Menariknya, kamera lebih banyak memainkan wide shot dan cerita berubah dari murni drama menjadi sajian absurd. Meski agak lambat, momen klimaks bagian ini begitu tak terduga dan menyisakan rasa sesak di dada. Diselingi dengan animasi unik, bagian ketiga mengajak penonton kembali ke apartemen Michael dan menghubungan semue cerita. Ketika akhirnya twist terkuak, final shot film ini terasa amat memilukan.

Foxtrot secara utuh memiliki sinematografi dan color pallete yang super cantik. Maoz juga sangat mahir menggunakan imagery dan bahasa non-verbal. Tanpa banyak dialog, rasa sakit perlahan terbangun dalam benak penonton dan tidak mau pergi. Metafora pada film ini pun cukup mudah dipahami dan beberapa dark humor yang ada sukses membuat saya tertawa miris. Bukan propaganda, film ini adalah bentuk kritik Maoz terhadap Israel tentang kesia-siaan perang. Pada akhirnya kedua belah pihak memang berduka.

All in all, saya pastikan film ini ada di top 10 film terbaik 2018. Go see it!

Rotten Tomatoes: 96% (112 critics)
#grief #duka #morondrama #foxtrot #israel #moronfoxtrot #sedih

03 Agustus, 2020

Review Film Hereditary (2018)


A GOOD HORROR SCARES YOU, THE SPECTACULAR ONE HAUNTS YOU

Film perdana Ari Aster ini tergolong yang kedua. Serupa The Witch (2015) dan The Babadook (2014), Hereditary lebih mengandalkan cerita untuk menciptakan sensasi ngeri, bukan hanya jump scare. Teror mental sendiri dimulai ketika Ibu dari seorang seniman miniatur bernama Annie (Collette) meninggal. Wide shot berupa transisi dollhouse ke rumah asli di awal film seakan mengisyarakan ada misteri yang mengancam keluarga Annie: suami Steve (Byrne), anak laki-laki Peter (Wolf), dan anak bungsu perempuan Charlie (Shapiro).
.
Perlu dipahami bahwa Hereditary lebih cocok disebut padat daripada lambat. Proses membangun tensi memang butuh waktu tapi semua akan terbayar dengan banyak kegilaan. Teknik pengambilan gambar yang bervariasi dan premis family melodrama pun sukses menjaga atensi kita. Sisi akting? Begitu apik! Meski Collette seakan dipuji sendirian, jangan lupakan Wolff yang menampilkan emotional trauma tanpa banyak kata, terutama blank face penuh makna pada adegan mobil dan meja makan. Shapiro beserta suara tongue pop-nya juga tampil begitu ikonik. Meski dia "tidak ada", auranya tetap terasa. Untuk Steve, dia bukan datar, tokoh waras memang penting sebagai penyeimbang.

Film ini dicintai dan dibenci secara bersamaan. Saran saya adalah coba untuk memahami posisi tiap tokoh dan bukan hanya menanti munculnya plot twist. Reward dari horor tipe ini bukan sekedar sensasi fisik tapi juga psikis, terutama rasa tidak nyaman dan kecemasan. Didukung dengan teknik editing dan sound yang tepat guna dan tepat waktu, momen tertentu bahkan dapat terasa traumatis dan menetap, apalagi hubungan dinamis antara Annie dan Peter.

Hadirnya banyak unsur horor klasik turut menegaskan bahwa formula lama terbukti masih relevan hingga kini. Hanya saja, saya bukan penggemar konklusi film ini yang banyak dilakukan lewat dialog – terasa kontras karena sebelumnya kita selalu diberi teka-teki. Terlepas dari hal itu, Hereditary adalah salah satu cinematic experience terbaik saya yang amat mengganggu namun mengesankan. My favorite line?

I AM YOUR MOTHER!

Rotten Tomatoes: 89% (251 critics)

#moronhorror #filmhoror #hereditary #takut #seram