31 Juli, 2020

Review Film Green Book (2018)


DOES CROWD-PLEASER EQUAL A BAD MOVIE?

Green Book adalah sebuah road film yang bercerita tentang seorang bodyguard berpengalaman bernama Tony Lip (Mortensen). Ia disewa oleh Don Shirley (Ali), seorang pianis African-American, untuk menjadi driver turnya ke Amerika bagian Selatan dimana rasisme mengakar kuat. Dibekali sebuah panduan anti rasisme bertajuk The Negro Motorist Green Book, perjalanan penuh makna pun dimulai.

Bisa dibilang Green Book adalah salah satu film yang paling diperbincangkan tahun ini. Pasalnya, sang sutradara kerap dianggap sebagai "kelas B". Banyak audiens dan kritikus pun ragu jika film tipe crowd pleaser ini pantas masuk nominasi Best Picture.

Bagi saya, Green Book adalah "a great movie with problems". Salah satunya adalah inkosistensi yang jelas terlihat, seperti perubahan Tony “Lip”. Di awal kita melihat sifatnya yang sangat rasis, namun tiba-tiba sifatnya berubah 100 persen dan menjadi lebih “hitam” dari Shirley tanpa ada development yang jelas. Ada lagi perubahan sifat Don yang di build-up sebagai pemegang teguh harga diri namun akhirnya kembali ke perangai semula. Masalah lainnya adalah sedikit ketidakseimbangan dalam menampilkan karakter hitam-putih Don dan Lip. Ironisnya, Lip justru terkesan seperti "white savior", padahal seharusnya kedua tokoh menjadi katarsis satu sama lain.

So, does that make Green Book a bad movie? Faktanya, saya begitu terhibur dan 2 jam durasi film ini tak terasa. Mortensen yang sangat serba bisa dan dedikasi akting Ali adalah faktor utama saya memaafkan kekurangan film ini. Dinamika dan chemistry mereka tersaji secara apik. Mereka mampu menyajikan apa yang ingin disampaikan sehingga membuat penonton tertawa lepas, sedih, haru, dan terbuka hatinya bersama film ini.

Andai dibuat sedikit lebih hati-hati, film ini bisa menjadi the next Driving Mrs. Daisy (1989) dibanding the next Forrest Gump (1994). But hey, sometimes it takes a mainstream flick to reach more people and change hearts and minds.

Rotten Tomatoes:  81% (267 critics)

#moroncomedy #morondrama #greenbook #oscar #rasisme

30 Juli, 2020

Review Film Incredibles 2 (2018)


IS IT WORTH THE 14-YEAR WAIT?

Nampaknya Avengers: Infinity War bukanlah satu-satunya sekuel film superhero yang paling dinantikan tahun ini. 10 tahun bukanlah angka yang besar jika dibandingkan dengan seberapa lama para fans menunggu sekuel film ini. Ya, kita harus menunggu 14 tahun untuk bisa kembali menyaksikan kelanjutan kisah petualangan keluarga superhero ini dalam Incredibles 2.

Brad Bird selaku director dan screenwriter dari animasi ini memang tak ingin memaksakan sebuah sekuel jika dia belum menemukan cerita yang sebanding dengan film pertamanya. Terbukti setelah 14 tahun lamanya, ia akhirnya mengamini harapan dari para fans animasi ini. Namun apakah penantian sekian lama para fans terbayar?

Incredibles 2 secara langsung melanjutkan kisah yang “terputus” di akhir film pertamanya. Keluarga ini harus menghadapi Underminer yang mengacaukan kota. Namun sebaliknya, dampak dari aksi para superhero ini justru lebih besar. Hal ini mengakibatkan aksi superhero kembali dicap ilegal. Film ini pun menyajikan kisah bagaimana sang Elastigirl harus beraksi sendiri menjadi wakil untuk mengembalikan nama baik para superhero, meninggalkan Mr. Incredible di rumah menggantikan peran menjadi seorang bapak rumah tangga.

Brad Bird jelas hati-hati dalam memilih alur cerita yang pas untuk membayar penantian para fans. Dengan mengedepankan tema family relationship serta female empowerement menjadikan film ini terasa modern. Aksi yang yang lebih intens dari real action movie seperti Avengers (tentu saja karena ini animasi), humor-humor ringan yang mengundang tawa anak-anak, serta kisah usaha untuk menjadi keluarga “normal” membuat film ini sayang jika dilewatkan bersama keluarga. Sang sutradara tahu betul bagaimana menghibur penonton segala usia, tak perlu twist yang terlalu runyam, plotnya dibuat harmonis sehingga mudah dipahami semua penonton. Meski tak sekokoh film pertamanya, kritik serta rating yang ditujukan pada Incredibles 2 membuktikan bahwa film ini mampu bersanding bersama sekuel-sekuel sukses Disney lainnya seperti Toy Story 3 dan Finding Dory.

Rotten Tomatoes: 93% (239 reviews)

#moronanimation #moronaction #moronadventure #incredibles2 #disney #pixar

29 Juli, 2020

Review Film Parasite (2019)


CLASS WAR HAS NEVER BEEN THIS FUNNY, AND CRAZY

Setelah dua kali berkutat dengan hingar bingar dan efek pada Snowpiercer (2013) dan Okja (2016), Bong Joon-ho seakan pulang kampung lewat Parasite, membidik kameranya pada "orang biasa" sembari tetap lantang menyuarakan isu kelas sosial.

Secara jelas, dua tipe keluarga dihadirkan di depan penonton, satu dikepalai oleh seorang pengangguran "cerdik" Kim Ki-taek (Song Kang-ho), satu lagi oleh seorang CEO "baik hati" Mr. Park (Lee Sun-kyun). Keadaan bumi dan langit ini lambat laun hidup berdampingan dan bahkan satu atap, dimulai ketika anak Ki-Taek, Ki-woo (Choi Woo-shik), berhasil mendapat pekerjaan di rumah Mr. Park.

Jika premis di atas terdengar menarik dan menghibur, memang demikian. Tawa antusias bioskop yang bukan hanya sekali atau dua kali menegaskan hal tersebut. Namun, film ini tidak dilabeli sebagai tragicomedy tanpa alasan. Ketika unsur tragis itu hadir, tidak ada lagi pilihan lain kecuali untuk menikmati dunia Bong Joon-ho sampai akhir – gila, tak terbatas genre, kadang hiperbola, tapi tetap relevant dan berbobot.

Hal yang paling saya suka adalah film ini terkesan tidak memiliki pemeran antagonis. Yang ada hanya sekumpulan orang yang berusaha bertahan dalam dunianya masing-masing. Tentu, kehidupan si kaya dihiasi warna dan pelangi. Namun, ketika si miskin "berulah", apakah itu salah mereka? Narasi penuh empati Bong akan membuat pertanyaan itu lebih susah dijawab, lengkap dengan tata kamera yang sukses menyulap koridor rumah dan basement menjadi tempat yang lega nan megah bagi pertarungan kelas antar tokoh, serta musik yang, entah terdengar iseng atau "grande", tidak pernah menganggu.

Masih ingat bagaimana Burning (2018) secara perlahan menggiring kita untuk melampiaskan emosi dan tensi? Film ini memiliki efek tersebut – penuh amarah namun disajikan secara subtil sekaligus ringan, terlebih ditambah hadirnya banyak tokoh nyleneh untuk didalami. In short, this film gives you all the feels and trills.

Melewatkan Parasite sama artinya melewatkan salah satu film terbaik, bukan hanya pada 2019, namun mungkin satu dekade terakhir.

Rotten Tomatoes: 100% (65 critics)

#parasite #palmedor #bongjoonho

28 Juli, 2020

Review Film Polytechnique (2009)


WHAT MADE A SCHOOL SHOOTER A SCHOOL SHOOTER?

Meski baru terdeteksi radar dunia lewat Incendies (2011), Denis Villeneuve sudah lebih dulu membidik kameranya pada isu konflik lewat Polytechnique, alias reka adegan atas Montreal Massacre 1989. Serupa dengan Elephant (2003), film ini menitikberatkan pada fakta permukaan atas suatu tragedi daripada analisa motif pelaku. Pilihan ini akan terasa "kentang" bagi sebagian orang karena ketiadaan character development dan alur yang jelas, namun film ini tetap terasa spesial bagi saya. Kenapa?

Pertama, sinematografi hitam putih tidak hanya mendukung nuansa kelam namun juga membuat Villeneuve lebih bebas menampilkan darah tanpa terkesan vulgar. Bidikan wide shot-nya pun mampu menangkap banyak kejadian dan pemain dalam satu frame, sesuai dengan sifat "chaotic" dari suatu tragedi. Kedua, 3 lakon utama yang bernama Valerie (Vanasse), perempuan ambisius, Jean-Francois (Huberdeau), teman laki-laki Valerie dan saksi mata, dan si peneror (Gaudette), penyendiri dan pembenci perempuan, adalah composite characters alias kumpulan dari banyak kepribadian/sifat yang ditampilkan dalam 1 tokoh. Artinya, back-story berlebih yang kadang justru melenceng tidak hadir di sini, pun begitu film ini masih sanggup mewakili isu feminisme, maskulinitas, dan mental illness. Ketiga, film ini tidak terasa mendramatisir dan melebih-lebihkan suasana. Selain tercermin lewat durasinya yang hanya 77 menit, score juga seadanya dan tidak dieksploitasi hanya karena film ini bertema penembakkan.

Terakhir, film ini "mentah". Jawaban headline di atas dan pertanyaan "kenapa" lain biarlah menjadi tugas media beserta narasumbernya. Film memiliki potensi untuk menempatkan penonton secara "in the moment" pada suatu peristiwa. Apakah orang-orang yang terlibat dalam situasi ini sempat memikirkan "kenapa"? Rasanya tidak, melainkan lebih kepada "ada apa ini?", "bagaimana untuk keluar?", "apa saya akan mati?" Jika kalian ingin lebih mendalami fenomena school shooting lewat karya audio-visual dan narasi semi fiksi, film penuh pujian ini lebih dari sekedar berhasil.

Rotten Tomatoes: 86% (14 critics)

#denisvilleneuve #schoolshooting #massacre #darah #hitamputih #kisahnyata

27 Juli, 2020

Review Film Ralph Breaks the Internet (2018)


INVENTIVE, SMART, AND VALUABLE

Ralph Breaks the Internet adalah bentuk kecerdasan menggunakan kemasan hiburan ringan untuk memasok nilai kebaikan kepada target penonton yang luas. Bukan sekedar melanjutkan kisah Ralph, film kali ini sejatinya melanjutkan kisah semua orang. Selamat datang di era Internet.

Ralph dan Vanellope menjelajah dunia Internet guna memperbaiki kerusakan game Sugar Rush yang merupakan bagian jati diri Vanellope. Pada perjalanan tersebut, mereka saling belajar menemukan makna hidup dan penonton pun diajak ikut serta. Melalui icon dan banyak karakter kesukaan semua orang, petualangan Ralph menunjukan keseharian kita, bagaimana cara Internet mengubah nasib seseorang melalui perburuan trafik popularitas dan uang, cyber bullying, atau bagaimana manusia dikontrol oleh sistem yang mereka ciptakan sendiri.

Serunya, nilai powerful diselipkan secara menyenangkan melalui visual memukau dan pemanfaatan karakter ikonik yang solid dan dekat dengan penonton. Para Disney Princesses muncul bukan hanya sebagai penggembira namun sebagai rebranding atas "girls power", bukan saatnya lagi perempuan menjadi putri lemah yang dependen pada superioritas kaum pangeran. Jokes soal tagihan eboy atau agresifitas pop up internet terasa begitu menggelitik, tanpa mengaburkan fokus pada petualangan mereka. Munculnya hadiah cute seperti kemunculan Stan Lee, Groot, atau Eeyore memancing reaksi seru penonton. Hingga akhirnya jurus andalan Disney memancing kehangatan haru bekerja sebaik biasanya. Momen Ralph dan Vanellope menemukan apa yang mereka butuhkan adalah konklusi bittersweet yang tepat. Penonton diajak meninggalkan budaya tuntutan happily ever after.

Tontonlah Ralph Breaks the Internet, tertawa, bernostalgia, dan jangan lupa, belajarlah. Animasi sekelas Inside Out dan Ralph adalah media yang kita butuhkan untuk menjawab pertanyaan misterius yang belum terjawab di film ini, "bagaimana cara terbaik mendidik anak-anak?". Mari kita temukan bersama dengan cara yang menyenangkan di bioskop.

Rotten Tomattoes: 88% (190 critics)

#RalphBreakstheinternet #moronanimation #reviewfilm #Disney #movie #galgadot #internet #Wreckitralph #game #90s #videogame #animation

26 Juli, 2020

Review Film Raise the Red Lantern (1991)


A MASTERPIECE THAT EVERY FEMINIST WILL HATE

Zhang Yimou adalah master perfilman Asia yang mungkin dikenal lewat Hero (2002) dan House of Flying Daggers (2004). Namun, era keemasan Zhang menurut saya adalah jaman 90an ketika dia terus mengeksplorasi isu patriarki di China, tanpa ampun.

Pada Raise the Red Lantern misal, film ini langsung dibuka dengan ide bahwa perempuan hanyalah pelayan laki-laki. Mirisnya, hal tersebut diucapkan oleh seorang gadis pintar bernama Songlan (Gong Li) yang terpaksa keluar universitas dan menjadi istri keempat dari saudagar kaya. Lambat laun ia menerima nasibnya dan ikut beradu intrik dengan selir-selir lain.

Sepintas, mudah untuk menganggap film ini hanya menjual visual cantik belaka dan cerita khas opera sabun, terlebih dengan musik yang memang sarat akan sentuhan opera China. Tonton dulu beberapa lama, saya yakin kita akan paham bahwa film ini sebetulnya dipenuhi dengan kegelisahan tentang posisi wanita. Perlakuan sang suami terhadap semua selirnya pun dibuat lugas namun sedikit menggelitik. Muka tuan tersebut tidak pernah ditampilkan jelas – sama halnya dengan tradisi, tidak tampak tapi minta dituruti.

Narasi film ini pintar menyetir power dynamic antara selir satu dan lainnya. Lama-kelamaan akan tampak bahwa satu-satunya jalan bagi mereka untuk bebas adalah dengan mengikuti kehendak sang kuasa, dalam hal ini laki-laki. Tidak melulu menyoal patriarki, film ini juga keras memprotes isu kelas sosial, terutama lewat tokoh Yan’er (Kong Lin). Saya jarang menangis karena film. Tapi, dua adegan yang melibatkan Yan’er dan Songlan sukses membuat air mata saya mengalir, bisa jadi karena terlalu nyata.

Fakta bahwa film ini hanya ber-setting di sebuah pemukiman China juga tidak menghentikan film ini terasa universal. Terlebih, naiknya alur film berbanding lurus dengan naiknya emosi. Menjelang adegan terakhir, ditambah dengan beberapa adegan yang tersebar dalam film, saya ikut merasa direndahkan, padahal saya bukan perempuan maupun feminist.

Betul, film ini bukanlah sekedar tontonan, namun juga pengalaman, yang sayangnya masih cukup relevan hingga kini.

Rotten Tomatoes: 96% (25 critics)

#morondrama #moronhistory #feminisme #perempuan

25 Juli, 2020

Review Film Roma (2018)


AN EMOTIONALLY AFFECTING MASTERPIECE

Passion project Alfonso Cuaron ini mengingatkan saya pada Moonlight (2016), amat membekas hingga pikiran saya menolak untuk menyebutnya fiksi. Untuk Roma, percayalah pada hype.

Kemasan luar film ini jelas tertampil begitu indah. Sinematografi hitam putih, color grading, dan camera movement film ini langsung menangkap atensi kita dari awal, suka tidak suka. Masuk ke dalam cerita, kita akan menyaksikan rangkaian episode pergolakan batin dari sebuah keluarga menengah ke atas di Mexico City tahun 1970, sebagian besar melalui sudut pandang sang ART, Cleo (Aparicio). Meski berbekal bukan aktor profesional, tiap frame terasa tak berbatas. Saya merasa ada di sudut ruang dan jalanan, tertawa ketika mereka merayakan suka, dan siap memeluk ketika mereka berduka.

Pace yang cukup lambat dan musik yang tidak menggelegar memang membuat film women-centric ini terdengar sunyi. Sebetulnya, cerita Roma begitu bergemuruh. Baik Cleo dan sang tuan rumah Sofia (de Tavira) memang memilih untuk berduka dalam diam. Namun, gerak-gerik dan mimik mereka lugas mengguratkan luka. Dinamika unik juga hadir pada kehidupan 4 anak Sofia. Naifnya pikiran anak-anak dihadapkan pada realita yang terkadang terlalu pahit, dan kita ada pada baris pertama menyaksikan reaksi mereka. Satu long take pada klimaks film ini begitu magis. Dimulai dari build-up, naiknya intensitas momen, dan ditutup dengan sebuah reaksi yang begitu manusiawi, adegan ini adalah salah satu cinematic moment terbaik saya, baik dari sisi estetika maupun kekuatan emosi.

Sebagai pecinta premis 'the maid & the master', saya suka pendekatan realistis Cuaron. Meski Cleo begitu dicintai, beberapa kali Cuaron menegaskan bahwa isu kelas tidak akan hilang hanya karena mereka tinggal satu atap, dan itu menyedihkan. Beberapa adegan seperti gempa bumi, kebakaran hutan, dan reka ulang Corpus Christi Massacre pun efektif mempertegas makna dan latar suasana film.

Salah satu standar tertinggi perfilman adalah membuat penonton merasakan apa yang sang sutradara rasakan. Bagi saya, Roma melampaui kriteria itu dengan amat mudah.

Rotten Tomatoes: 96% (290 critics)

#roma #netflix #morondrama #family #sad #pain

24 Juli, 2020

Review Film Searching (2018)


A TECHNICAL & CULTURAL TRIUMPH

Jika biasanya peran utama Asian baru muncul jika ceritanya terkait budaya Asia, film ini tidak memberi penjelasan sama sekali tentang alasannya menceritakan keluarga Asian-American, dan itu adalah kemajuan besar bagi isu inklusifitas Hollywood. Sebenarnya tidak ada yang baru dari sisi cerita yang hanya berporos pada upaya seorang ayah bernama David (Cho) memecahkan misteri hilangnya sang putri, Margot (La). Hanya saja, cerita sepenuhnya dituturkan lewat sudut pandang komputer.

Keraguan saya atas konsep ini langsung terbantahkan dengan prolog yang secara efektif menjelaskan situasi sekaligus langsung menguras emosi, persis seperti prolog Up (2009). Rasa penasaran saya tentang bagaimana film menjelaskan hal-hal yang lebih rumit pun terjawab dengan polah inventif sutradara yang cerdik menggunakan berbagai media: Social Media, CCTV, TV News, Home Video, dll. Penggunaan hal tersebut dilakukan bertahap sejalan dengan proses pengungkapan misteri sehingga mampu menjaga penonton tetap penasaran.

Metode desktop horror ini paling baru digunakan oleh Unfriended (2015) dan, karenanya, saya tidak tertarik memfokuskan ke bagian tersebut. Hal yang lebih menarik adalah John Cho yang sukses mentransfer kegundahannya ke penonton meski hampir sepenuhnya berakting sendirian di depan layar. Saya merasa menjadi Ayah dan ingin menemukan Margot. Di tengah keseriusan ini, paling tidak ada 1 momen "comedy gold" tentang Justin Bieber yang seketika membuat satu studio tertawa lepas. Kritik atas dunia digital pun kerap dilontarkan dan rasanya mustahil jika kita tidak sedikit tersentil.

Sayangnya, film ini seperti tidak tau kapan harus berhenti. Berbagai intrik yang ada memang seru untuk diikuti, namun revelation yang bertumpuk di ending dapat menyebabkan kesan "too much" dan melelahkan. Meski demikian, hal itu hanyalah masalah selera. Film seperti ini, Bad Genius (2017), dan A Quiet Place (2018) tetap dapat menjadi bukti bahwa para sineas masih punya banyak ruang untuk berinovasi di jaman dimana semua hal terkesan sudah pernah dilakukan.

Rotten Tomatoes: 93% (67 critics)

#moronthriller #johncho  #asianamerican #moronmystery #searching

23 Juli, 2020

Review Film Shoplifters (2018)


#JAFF2018

DOES GIVING BIRTH MAKE YOU A MOTHER?

Shoplifters menjadi salah satu film yang paling berisik gaungnya di ranah internasional tahun ini. Bisa jadi karena akhirnya dunia sadar betapa pintarnya Kore-eda menyentuh berbagai dimensi emosi lewat narasi yang subtil dan terkesan tidak ada apa-apa.

Tidak ada yang baru di sisi tema, masih seputar keluarga, alias topik keahlian Kore-eda. Uniknya, cerita ini dibangun di atas premis yang abu-abu. Kita diminta mengikuti keluarga pengutil. Meski demikian, opening scenes yang berupa aksi mencuri di toko dan membawa pulang gadis kecil yang 'tersesat' efektif membangun simpati. Sepintas kita diperkenalkan dengan beberapa anggota keluarga yang dikepalai Osamu (Franky) sebagai ayah dan Nobuyo (Ando) sebagai ibu. Lambat laun kita diberi tau tentang masing-masing tokoh sembari disajikan berbagai situasi kekeluargaan yang hangat, pula humor lucu yang sebelumnya tidak saya prediksi.

Bagi penonton yang belum terbiasa dengan Kore-eda, model eksplorasi dan membangun karakter ini akan terkesan membosankan. Adegan-adegan Kore-eda lebih bermakna untuk dirasakan 'in the moment', bukan sekedar batu loncatan ke alur atau twist. Bagi saya, 30 menit terakhir film ini adalah bintang utamanya. Banyak kesunyian, close-up, dan akting memukau. Kore-eda juga banyak menantang penonton lewat pertanyaan yang dilontarkan, baik secara tersurat ataupun tersirat. Melihat resolusi tiap tokoh, penonton yang sudah terlanjur memiliki koneksi dengan keluarga ini seakan dipaksa terlibat dalam konflik. Kita menyaksikan sendiri interaksi keluarga tersebut secara intens, maka ketika pihak ketiga memposisikan mereka dengan lain, hati kita pun terusik. Adakalanya saya lega, namun bohong jika saya tidak bilang iba dan putus asa.

Persis dengan Moonlight (2016), saya menjadi terlalu peduli pada tokoh di film ini. Dengan ending yang tidak memanjakan penonton, saya masih ingin mengetahui kabar Yuri (Sasaki), anak yang 'diselamatkan' Osamu. Tau kenapa? Karena hanya film terbaik dari yang terbaik yang bisa menyentuh penonton sampai taraf ini.

Rotten Tomatoes: 99% (116 critics)

#shoplifters #morondrama #family #warmth #keluarga #mother #pekansinemajepang

Review Film Shazam! (2019)


DC HAS STEPPED UP THEIR GAME

Setelah meraup kesuksesan fantastis melalui Wonder Woman (2017) dan Aquaman (2018), DC nampaknya telah menemukan formula jitu untuk lepas dari kutukan “tomat busuk”. Demi melanjutkan estafet kesuksesan sebelumnya, kali ini DCEU mencoba pendekatan yang “lebih familiar” melalui Shazam!

Billy Batson (Angel) adalah bocah bengal yang gemar melarikan diri dari panti asuhan untuk mencari ibunya. Kepercayaan bahwa ibunya masih di luar sana menantinya, membuat Batson enggan menerima keluarga manapun yang mengasuhnya. Hingga suatu hari peristiwa magis menimpanya yang membuat ia berubah menjadi sosok pahlawan yang mewarisi kekuatan sihir bernama Shazam (Levi). Peristiwa itu membuatnya mau tidak mau meminta bantuan pada Freddy (Grazer) dan keluarga barunya. Serangkaian peristiwa kocak pun mengiringi kisah Batson dan Freddy dalam mengeksplorasi kekuatan Shazam. Namun tanpa mereka sadari, ancaman musuh sedang mengintai mereka.

Alih-alih berpegang teguh dengan kesan kelam dan seriusnya, DCEU belakangan mencoba menjangkau lebih banyak penonton dengan narasi film superhero yang lebih disukai masyarakat kebanyakan. Cerita yang lebih ringan, humor yang kental, serta lebih family-oriented menjadi suguhan utama film ini. Sulit untuk tidak menyukai Shazam! bahkan jika anda bukanlah fanboy. Humor satir yang dibawakan sungguh mengocok perut penonton. Selain itu, kharisma Zachary Levi dalam menampilkan persona Shazam begitu apik. Kenakalan dan konflik remaja yang dinarasikan melalui karakter Batson dan Freddy serta hubungan mereka dengan keluarganya menjadikan film ini begitu hangat dan relatable. "Kejutan menarik" pun menambah serunya film ini. Kesemuanya itu menjadikan Shazam! menjadi film yang sangat menyenangkan untuk dinikmati segala kalangan.

DCEU telah menemukan jalannya, meski masih dengan bermacam ketidakpastian teknis, mereka dengan pasti membawa para jagoan superhero mereka ke arah yang benar. Persaingan di ranah film superhero pun semakin seru untuk ditunggu. Let’s grab a popcorn and watch them collide!

#SHAZAM! #DC #DCEU #nowshowing #superman #billybatson9

22 Juli, 2020

Review Film The Favourite (2018)


SENSUAL, MYSTERIOUS, AND FUNNY

The Favourite bisa dibilang adalah film Yorgos Lanthimos paling waras. Bukannya ber-setting di dunia penuh keganjilan seperti biasa, setting justru mengambil kisah nyata tentang kerajaan Inggris tahun 1702. Cerita utamanya berfokus pada hubungan antara Quenn Anne (Colman) dan penasehatnya, Sarah (Weisz). Ketika istana kedatangan sepupu Sarah yang bernama Abigail (Stone), semua tidak lagi sama.

Satu hal paling terlihat adalah hilangnya akting deadpan khas Lanthimos. Hal ini bisa dipahami karena Lanthimos memang tidak terlibat dalam penulisan skenario. Film ini pun lucu, tapi seperti tidak berniat melucu. Maksudnya, jika biasanya adegan lucu didahului dengan build-up atau dibarengi dengan efek suara tertentu, film ini menyajikannya secara datar, tau-tau saya sudah tertawa. Meski demikian, sentuhan nyentrik Lanthimos tetap terlihat di berbagai polah tingkah tokoh dan scoring yang kerap menyita perhatian.

Hal paling menarik bagi saya adalah rumitnya sosok Anne – lemah secara fisik, tidak stabil secara mental. Di beberapa adegan, Colman secara mudah berganti mood dari penuh senyum menjadi "gila". Intrik dan power dynamic yang terjadi antara Anne, Sarah, dan Abigail pun tidak semata-mata seru. Semakin mendekati ending, semakin kompleks pula hubungan mereka. Tone film pun berubah dari sensual dan humoris menjadi emosional. Adegan final? Terkesan diam tapi sebetulnya berbicara banyak hal.

Tidak seperti Three Billboards (2017) yang kadang meyisipkan komedi di adegan serius, film ini memilih untuk memisahkan momen kapan harus tertawa dan serius – membuat cerita lebih enak diikuti. Saya pun merasa bahwa setiap tokoh bisa berperan sebagai protagonis sekaligus antagonis, tergantung bagaimana kita melihatnya. Betul, Lanthimos tetap membuat kita berpikir meski di atas kertas film ini tampak dangkal. Meski isu perang dan politik hanya terkesan sebagai pengisi dialog saja, paling tidak konteksnya masih mudah diikuti.

Secara keseluruhan, The Favourite adalah salah satu film 2018 yang begitu meninggalkan kesan mendalam.

Rotten Tomatoes: 94% (341 critics)

#moronbiography #moroncomedy #thefavourite #filmlucu #lucu

Review Film Silenced (2011)


THERE'S NO JUSTICE IN THE WORLD UNLESS WE MAKE IT

Saya mulai setuju bahwa headline kejam diatas benar, tidak ada keadilan ideal di dunia ini, film ini menegaskan hal tersebut. Apa yang saya rasakan setelah menonton film ini? Amarah tidak berkesudahan. Mengapa? Film adaptasi novel best seller yang bersumber dari kisah nyata ini benar-benar meremukan hati. Dari awal hingga akhir, suasana kelam dan menyedihkan langsung menyedot kebahagiaan penonton, bahkan kharisma hangat Gong Yoo tidak cukup membuat rasa bahagia hadir.

Silenced menceritakan tentang usaha seorang guru dan seorang aktivis membongkar kasus pelecehan seksual yang dilakukan kepada anak-anak di sekolah berkebutuhan khusus. Kejahatan seksual ini begitu rapi tertutup bertahun-tahun, terstruktur, dan melibatkan banyak pihak. Saya merasakan amarah dan frustrasi ketika anak-anak manis tidak berdosa ini divisualisasikan menerima perlakuan tidak manusiawi, beberapa adegan membuat bulu kuduk saya merinding. Makin menyakitkan jika mengingat kisah ini diadaptasi dari kejadian nyata.

Cara bertutur sang sutradara, Dong Hyuk Wang, begitu kelam. Dia paham bahwa detail kecil disetiap event mampu membangun simpati penonton terhadap keseluruhan cerita. Maka secara perlahan, penonton dibuat menyayangi ataupun membenci seorang tokoh melalui rangkaian komunikasi non verbal, interaksi halus atau potongan momen sederhana, sebelum akhirnya meremukan batin lewat punch line kejadian yang menyulut pelatuk emosi. Lebih lanjut, film ini mengusung misi kemanusiaan yang penting.

Kenapa anda harus menonton film ini? Karena film ini adalah contoh sebuah pergerakan kemanusiaan melalui film. Dua bulan setelah film ini release, demonstrasi besar-besaran dilakukan oleh masyarakat, memaksa kasus kelam yang telah lama dikubur pengadilan kembali dibuka hingga akhirnya sekolah tempat kejadian perkara benar-benar ditutup oleh pemerintah setempat. Mungkin benar apa yang dikatakan Petyr Baelish, there's no justice in the world unless we make it.

#Silenced #Gongyoo #morondrama #reviewfilm #filmkorea #dramakorea #children #humanity #korea #moronsilenced

21 Juli, 2020

Review Film The Lunchbox (2013)


GOOD FOOD DOESN'T ALWAYS MEAN GOOD (LOVE) LIFE

Terkadang, latar tempat dan budaya tertentu membuat emosi suatu film tidak dapat dirasakan secara luas. Namun, film ini bisa dibilang masuk pengecualian. After all, memang siapa yang sekali dua kali tidak pernah merasa hampa dan kosong?

Paling tidak, Saajan (Khan) dan Ila (Kaur) tengah mengalaminya. Mereka sebetulnya adalah dua orang asing, satu pekerja kantoran semi pensiun, satu lagi ibu rumah tangga yang diabaikan. Ketika suatu hari kotak makan Ila untuk suami salah terkirim ke Saajan, komunikasi terjalin di antara keduanya, termasuk kemungkinan untuk timbulnya cinta.

Widescreen aspect ratio-nya boleh saja dipadati dengan carut marut Mumbai, dialognya sah-sah saja menyinggung email dan teknologi, pun musik yang berdering sesekali. Namun, sang sutradara tetap berhasil menempatkan Saajan dan Ila pada dunia tersendiri dan membiarkan penonton masuk – ikut penasaran atas rangkaian kata yang tertulis pada surat, membuat ruang sepi pada diri masing-masing terasa sedikit bergemuruh.

Terasa kontras adalah sosok Shaikh (Siddiqui), pemuda penuh semangat calon pengganti Saajan – menghilangkan kesan naskah terlalu kelam dengan membubuhi harapan. Naskah juga cukup “jenaka” dengan menghadirkan sosok Auntie Deshpande, tetangga lantai atas yang mirisnya hanya berkomunikasi lewat teriakan, tanpa tatap muka.

Menariknya, kisah Saajan dan Ila bisa dibilang adalah romansa dewasa. Berbagai poin penting dikuliti pelan-pelan dan tidak ada kewajiban untuk menjadikan semuanya indah, alias pelik mendekati realita. Namun, menurut saya, bintang utama film ini adalah performa Khan dan Kaur. Dituntut berakting secara “nuanced” dan mengandalkan gerak-gerik, pahit dan manis-nya kisah hidup yang ditampilkan tetap terasa, beberapa bahkan membekas.

Sebagai bonus, penonton turut disajikan pengetahuan atas sistem catering terkenal Mumbai (dabbawalas) serta rentetan adegan penggugah selera. All in all, jika kalian mencari film dengan bumbu yang pas di segala sisi, ini salah satunya.

Rotten Tomatoes: (112 critics)

#moronromance #morondrama #goodfood #delicious #loneliness

Review Film The Insult (2017)


WAR IS WHAT HAPPENS WHEN LANGUAGE FAILS

Pernah mendengar teori Butterfly Effect? Teori ini menjelaskan tentang perubahan kecil pada satu tempat dalam suatu sistem dapat memicu kekacauan dalam skala yang besar dan menyeluruh. Teori ini diterapkan Ziad Doueiri lewat premis yang langsung membuat jengkel dari awal, meramu cerita tentang sebuah pertengkaran antara dua lelaki menjadi kobaran konflik nasional yang begitu sensitif. Bagaimana bisa? Ya, apalagi jika bukan soal agama? Manusia menjadi begitu sensitif soal kepercayaan. Penonton Indonesia tidak lagi perlu diajari soal yang satu ini.

Kapan perdebatan dapat terlihat begitu intens? Film Timur Tengah punya dua alternatif favorit : setting rumah tangga dan persidangan. Anda sudah tau film ini mengarah kemana dari gambar yang kami tampilkan. Toni (Karam), seorang warga kristen Lebanon, terlibat pertengkaran dengan Yasser (Basha), seorang pengungsi muslim Palestina. Bermula dari adu mulut, berakhir dengan kontak fisik, dan dibumbui perseturuan pribadi dan provokasi agama, dua kubu pengacara membuat film ini sungguh intens.

Mungkin anda berpikir Moronmovie cukup sembrono memilih film ini pada momen ramadhan, belum lagi situasi panas akhir-akhir ini. Tapi percayalah, film dengan tema pertengkaran antar golongan ini justru secara ajaib mengajarkan nilai perdamaian. Bagaimana bisa? Silahkan nikmati script solid, akting memikat, dan hubungan unik 2 tokoh utama film ini. Terlepas dari sebuah plot twist yang mengganggu dan sedikit dramatisasi lebay, film ini sejatinya sungguh cerdas menjelaskan apa yang terjadi saat kedua golongan berkonflik dan bagaimana seharusnya saling memahami.

Dari Toni dan Yasser penonton diajak kembali merenung pertanyaan sederhana yang layak dilontarkan untuk kita semua. Saat jamaat gereja saudara kita diserang ketika beribadah, lalu sekumpulan orang memprovokasi bahwa tindakan keji tersebut berasal dari ajaran Muslim dan para Muslim yang terprovokasi membalas dengan amarah serupa, siapa yang menang? TERORIS. Siapa yang tersakiti? Kita semua. Mau sampai kapan kita begini? Semoga tidak lama.

Rotten Tomatoes: 89% (68 critics)

#Theinsult #morondrama #Lebanon #Palestine #Peace #moroninsult

20 Juli, 2020

Review Film The Perks of Being a Wallflower (2012)


ARE YOU SOCIALLY AWKWARD? THIS MOVIE MAY (NOT) GIVE YOU THE RIGHT MESSAGE

Seperti yang pernah saya bilang, saya penggemar tokoh socially awkward atau depresi/terganggu. Fakta bahwa film ini memadukan dua hal itu lewat akting jempolan Logan Lerman dan ditambah dengan aksi segar  Emma Watson dan Ezra Miller, what's not to love?

Ngomong-ngomong masalah cinta, film dengan setting 90an ini bukanlah film high school romance biasa. Betul, masa-masa high school bukan cuma milik para popular alpha males dan beauty queens! High school juga milik freshman terganggu seperti Charlie (Lerman), semi-closeted gay weirdo seperti Patrick (Miler), dan perempuan dengan "reputasi" seperti Sam (Watson). Interaksi ketiga tokoh ini begitu bittersweet untuk diikuti dan bahkan relatable, terutama bagi orang yang tidak mengidentifikasi diri sebagai cool kids.

Saya suka bagaimana narasi film mengupas tiap tokohnya sedikit demi sedikit. Charlie misal, dia memang pemalu dan tertutup, namun apakah hanya itu saja? Sam dan Patrick bisa jadi juga tidak sesederhana yang ditampilkan. Potensi romansa anak muda tidak dieksploitasi semena-mena namun wajar berdasar situasi yang terbangun. Tidak ada pula drama hiperbola dan air mata tidak perlu, hanya ada anak-anak SMA beserta kisahnya masing-masing. Beberapa bagian memang klise dan terlalu berfokus pada tokoh utama sehingga lainnya terkesan numpang, which I hate. Meski begitu, perpaduan tema mental illness dan sexuality tanpa terkesan menggurui adalah poin penting yang kerap absen dari film sejenis. Setting jadul juga berarti tidak adanya gadget dan internet, cukup cinta dan realita growing up ditemani dengan lovely music dan loveable characters. Again, what's not to love?

Saya memahami bahwa film ini berfokus pada upaya Charlie untuk fit in. Sayangnya, tidak semua orang socially awkward seperti Charlie: good-looking, perfect family, dan ketiban untung bertemu orang seperti Sam dan Patrick. Sometimes trying to fit in feels more painful than not fitting in at all. Sometimes it's best to just love and live our life as we know it. Most of the times, that's the better option.

Rotten Tomatoes: 86% (156 critics)

#morondrama #moronromance #loganlerman

Review Film The Man from the Sea (2018)


TENGGELAM DALAM MEGAHNYA DUALISME LAUT

Setelah memenangkan Jury Prize pada Festival Film Cannes 2016, nampaknya Koji Fukada ingin sedikit bersantai, menciptakan film bernuansa teduh, ringan, namun tetap sarat makna. Tempat mana lagi selain perpaduan sempurna laut dan Indonesia yang mampu mewujudkan tujuannya? Maka jadilah ia menyelam kedalam megahnya lautan Indonesia, menyajikan visual memanjakan mata, disertai cerita ringan namun dilengkapi dengan dualisme yang tidak bisa dianggap remeh.

Seorang pria asing, tanpa nama, tanpa ingatan dan tanpa asal-usul ditemukan terdampar di bibir pantai oleh warga setempat. Ia tak banyak bicara ataupun berekspresi, mereka menamainya Laut (Dean Fujioka). Takdir mempertemukannya dengan Takashi (Taiga), pemuda Jepang yang hidup di Indonesia, Ilma (Sekar Sari) seorang sineas dokumenter, Kris (Adipati Dolken) juru kamera yang lugu dan tulus, serta Sachiko (Junko Abe), sepupu Takashi yang mencari kepingan masa lalunya. Bersama Laut, mereka menemukan cinta dan persahabatan lewat serangkaian kejadian magis.

Koji Fukada bermain dengan rasa dan nalar penonton, diantara lucu dan serunya interaksi para tokoh yang bermain apik, beberapa adegan surealis disisipkan tepat momen. Kita akan melihat bagaimana laut membuat para tokoh mampu berjalan diatas lautan, atau dirinya yang bak penyihir mengendalikan air untuk menyelamatkan nyawa seorang gadis kecil dan juga merenggut nyawa orang lain tanpa kejelasan motif pada lain kesempatan. Seolah Laut menjadi representatif "Laut" sesungguhnya, sumber kehidupa sekaligus sumber perenggut kehidupan jika tidak kita waspadai. Ilma, Kris, dan Sachiko juga disatukan oleh kisah Tsunami Aceh 2004 silam, menambah relevansi film.

Fukada memang benar-benar ingin mengajak penonton menikmati film ini. Sinematografi memukau, kisah cinta, dan persahabatan lewat interaksi keseharian apa adanya dan sejuta pertanyaan tentang Laut seolah membawa kita tenggelam dan merenung. Sejatinya seperti itulah adanya kehidupan dan laut, penuh misteri yang tidak perlu kita ketahui sepenuhnya, cukup saja kita nikmati penuh khidmat.

#Themanfromthesea #Indonesia #Jepang #Laut #Adipatidolken #reviewfilm #JAFF2018 #Sea

19 Juli, 2020

Review Film The Theory of Everything (2014)


SOMETHING THAT CAN'T EXPLAIN BY EVERY THEORY IN THE WORLD: LOVE

Orang mengenal serta mengagumi Stephen Hawking sebagian ilmuwan besar penemu teori relativitas umum dan mekanika quantum, atau membencinya karena argumentasi berbau atheisme. Meski berformat biography, The Theory of  Everything arahan James Marsh tidak memotret perjalanan hidup Hawkins dari frame tersebut. Sesuai dengan buku sumber adaptasinya, elemen kehidupan paling personal Stephen Hawking lah yang disorot: Cinta.

Ya, film ini adalah sebuah kisah roman, salah satu favorit saya. Mengapa? Entah. Mungkin screenplay dan sinematografi film ini begitu memabukkan indra audio, visual, dan sitem limbik pengatur emosi yang saya miliki sepanjang durasi, atau mungkin chemistry Eddie dan Felicity terlalu kuat untuk dibantah. Satu hal yang pasti, aspek eksekusi editing dan akting Eddie Redmayne layak mendapatkan semua jempol yang saya miliki.

Kisah ini dimulai saat Stephen Hawking (Redmayne) berproses mencapai gelar PhD di Cambridge University. Di tengah pergelutannya dengan matematika dan fisika, Stephen bertemu dengan Jane Wilde (Jones). Keduanya jatuh hati dan menjalani bittersweet love life yang tidak mudah, pasalnya Stephen menderita ALS, sebuah penyakit yang mengancam fungsi normalnya sebagai manusia. Pasangan ideal dan kisah cinta manis sempurna tokoh besar? Bukan itu yang ingin dipamerkan dalam film ini. Meski kurangnya pendalaman inti permasalahan di beberapa bagian dan penempatan plot yang terkadang terkesan mendistraksi dan tanggung, keintiman cara bertutur film ini begitu kuat.

Theory of Everything berhasil memanusiakan Hawkins dan istrinya, mengajarkan untuk bisa memahami kebahagiaan dengan mengajak penonton untuk merasa kondisi tidak ideal terlebih dahulu. Selamat merayakan atmosfer penuh cinta Royal Wedding dengan menonton film ini.

Rotten Tomatoes: 78% (193 critics)

#Theoryofeverything #StephenHawkins #Eddieredmayne #moronromance #reviewfilm #filmbagus #love

Review Film The Umbrellas of Cherbourg (1964)


THE BEST MUSICAL OF LOVE AND HEARTBREAK, NO DIALOGUES NEEDED

Damien Chazelle pernah berujar bahwa obsesinya atas film musikal berasal dari peraih Palme d'Or 1964 ini. Rasanya memang bisa disimpulkan bahwa tidak akan ada La La Land jika tidak ada masterpiece yang amat spesial ini, plain and simple. Mana yang lebih bagus?

Well, that's not the point karena sejatinya dua film ini berbeda. Di saat La La Land berdialog seperti film pada umumnya, film ini melantunkan semua dialog para tokohnya. Mulai dari obrolan manis soal cinta, renungan tentang hidup, hingga perkara se-sepele membeli bensin, nada dan irama tidak pernah kabur dari telinga penonton. Terlebih, score orkestra hadir tanpa putus sepanjang 90 menit durasinya yang terbilang efektif ini. Jika makin lama romansa kekininan makin ruwet karena senantiasa mencoba premis baru, perkara cinta di sini terkesan apa adanya. Gadis naif bernama Geneviève (Deneuve) dan mekanik muda bernama Guy (Castelnuov) saling terpikat dan merasa dunia milik berdua. Bagi kalian yang pernah jatuh cinta, bukankah cinta sesederhana itu? Karenanya, saya bilang film ini begitu manis.

Tapi tidak juga, film ini juga penuh intrik dan drama anti-lebay yang tidak melulu menyoal sejoli kasmaran. Kematian? Patah hati? Keputusasaan? Well, apapun itu rasanya saya siap saja terus memandang layar mengingat warna-warna yang ditampilkan pun begitu memanjakan mata. Mungkin beberapa orang merasa lelah dan berharap para tokoh berbicara normal saja. Bagi yang selalu haus akan cinematic experience yang unik, saya rasa yang muncul justru rasa respect pada sang sutradara Demy karena telah bertindak sedemikian inovatif, bahkan saya rasa tidak ada duanya hingga kini.

Meski film ini datang dari jaman baheula, namun saya rasa premis utama film ini masih relevan, apalagi jika penonton mau ikut memahami kondisi di setting yang diceritakan. Apa hal yang lebih indah dari cinta dan harapan di jaman yang dipenuhi duka perang dan ketidakpastian? Nothing. Log out dulu facebook dan tinder dan mari rayakan love and heartbreak secara hakiki, dimana semuanya masih soal rasa.

Rotten Tomatoes: 98% (54 critics)

#moronmusical #moronromance #love #heartbreak #hope #lalaland

18 Juli, 2020

Review Film The Young Offenders (2016)


VERY, VERY, VERY FUNNY AND MUCH, MUCH, MUCH MORE THAN JUST A COMEDY

Pada mulanya, saya begitu skeptis dengan film yang tampak tidak meyakinkan ini dan hanya menonton karena sudah lama tidak menikmati aksen Irish dan karena durasinya amat pendek, 80 menit. Di akhir, you know, ketika kalian punya perasaan untuk segera gembar-gembor atas film yang baru ditonton, apa lagi kalau bukan karena memang bagus dan membekas maksimal?

Film berbudget sekelas "uang makan" ini menurut saya juga jauh superior dari komedi jutaan dollar Hollywood kekinian. Meski dua aktor antah berantah ini mungkin tidak punya 1/100 dari bayaran Amy Schumer, at least mereka memang punya bakat komedi dan seakan "right men in the right place". Walley sebagai Jock memiliki wajah yang memang bodor alami. Di sisi lain, Murphy sebagai Conor tampak seperti target ideal bully berkat fisiknya yang terbilang pendek. Berkat karakteristik ini, premis road trip dan penyelundupan cocaine yang kelam sukes berubah menjadi lawakan yang singkat, padat, dan jelas.

Saya belakangan merasa bahwa banyak sajian komedi mulai kebablasan menyisipkan isu-isu sampingan seperti feminisme dan rasisme, agar kece dan relevant katanya. Bulshit memang, mereka salah media. Komedi yang seharusnya menjadi tempat utuk merayakan hal-hal ringan justru kini jadi tempat kongkow baru para Social Justice Warrior. Beruntung, film ini masuk ke golongan pertama. Kebodohan demi kebodohan ditampilkan sepanjang durasi dan saya jamin susah bagi penonton untuk tidak terhibur. Sometimes it's OK to be superficial dan receh, apalagi jika humornya terkesan begitu effortless dan pengemasan musiknya sudah begitu playful dari awal.

Bagi pencari drama bittersweet, hidden gem asal Irlandia ini pun menyuguhkan hal tersebut lewat beragam sidestories yang surprisingly begitu relatable, bahkan terasa lebih menyentuh dan dramatis dari banyak film lain yang melabeli dirinya sebagai drama tulen. Parenthood, friendship, loneliness, you name it. Perpaduan lengkap ini memberi sensasi hangat yang jarang saya rasakan dalam film, and I know you should feel it too!

Rotten Tomatoes: 100% (21 critics)

#lucu #ireland #moronoffender #bromance #friendship #moroncomedy

Review Film The Vanishing (1988)


NEVER BEEN THIS SCARED WATCHING A MOVIE

Sepasang kekasih Rex (Brevoets) dan Saskia (Johanna) sedang dalam perjalanan liburan menuju Prancis ketika mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah rest-stop yang sangat ramai. Saskia masuk ke dalam minimarket untuk membeli minuman ringan sementara Rex menunggu di mobil. Dari detik, menit, hingga jam Rex menunggu, Saskia  tidak pernah kembali. Dia hilang, lenyap. Dimanakah Saskia berada?

Anda tidak salah membaca headline di atas. Saya masih ingat betul jantung ini berdetak kencang di akhir film. Bahkan saya tak bisa tidur memikirkan film ini. Hebatnya, film ini sama sekali tidak mengandung darah ataupun makhluk astral. Semua yang bermain di film ini adalah manusia dan karakter mereka. Masih kurang? Sang master of dark movies Stanley Kubrick menyebut film ini “the most terrifying film he has ever seen", even more frightening than his own, The Shining.

Lalu apa yang membuat film ini begitu menyeramkan? Bisa jadi adalah struktur film yang berbeda dari film horor pada umumnya. Film ini memadukan flashback dan present day secara rapi. Hal ini diperkuat dengan pennggunaan narasi yang tidak meledak-ledak dimana kita sebagai penonton akan merasa seakan mengapung di atas air. Di sana, kita tidak merasa takut karena air begitu tenang. Tapi, di alam bawah sadar kita menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal. Ketenangan ini justru membuat kita tak nyaman. Kemudian tanpa kita sadari tiba-tiba kita sudah ada di dasar, meregang nyawa tanpa daya.

Selain itu, penguatan karakter kubu antagonis dan protagonis dibuat secara presisi dan tidak terjebak klise. Mengapa? Tiap karakter dibuat senormal mungkin tanpa terlalu menonjolkan sisi jahat atau baik. Paradoks antara kesan normal dan cerita yang begitu kompleks ini menciptakan mind game yang begitu menegangkan dan membingungkan, hingga akhirnya terakumulasi pada ending yang betul-betul menganggu jiwa dan raga.

Saya tidak merekomendasikan film ini untuk mereka yang mudah depresi atau memiliki masalah dengan kecemasan. Jika masih bernyali, bersiaplah untuk dibuat tidak nyaman dan gelisah.

Rotten Tomatoes: 98% (44 reviews)
#moronhorror #moronthriller #thevanishing #moronvanish

17 Juli, 2020

Review Lean on Pete (2017)


SOME PEOPLE DREAM OF BEING EXTRAORDINARY, SOME OTHERS JUST WANT TO BE NORMAL

Film ini sepintas terkesan seperti film adventure tentang seorang bocah dan kudanya. Sebetulnya tidak juga, film ini justru begitu dominan pada studi karakter dan karenanya saya kira akan terasa monoton. Hasilnya? Tokoh Charley yang diperankan Charlie Plummer selalu ada di atensi saya meski alurnya lambat.

Lewat dialog dan situasi, cerita di awal bertutur dengan jelas dalam mengenalkan sosok Charley sebagai remaja yang hidup dengan Ayah yang kurang bertanggung jawab baik di masa lalu atau masa kini. Secara bersamaan, kita dibuat paham bahwa Charlie adalah sosok "the right man in the wrong place" yang sederhana dan punya banyak potensi jika nasib memberinya kesempatan. Cerita kemudian bergulir membuntuti keseharian Charley pada liburan musim panasnya, lengkap dengan drama dan tragedi yang tidak terasa over dramatis.

Saya suka keputusan sutradara untuk menyerahkan tokoh Charley pada Plummer yang terkesan seperti regular kid, karena memang hidup bukan cuma milik para prince charming! Gesture dan akting kalem Plummer sukses mengurai rumitnya sosok introvert menjadi sesuatu yang lugas. Lewat perangainya sebagai "a man of a few words", penonton akan paham jika sebetulnya Charley berteriak minta tolong. Ironisnya, teriakan itu bukan didengar oleh manusia melainkan oleh seorang kuda tua dan lelah bernama Pete. Hubungan manis nan melankolis ini salah satunya diakhiri dengan curhatan hidup Charley pada Pete yang menurut saya begitu mengharukan, nyata, powerful namun tulus dan optimistis secara bersamaan.

Lean on Pete adalah jenis film yang begitu saya suka. Film ini membuat saya tidak peduli atas aspek sound atau sinematografi karena saya sibuk merayakan tokohnya. Merayakan? Ya, saya yakin banyak orang dapat menemukan diri mereka pada hidup Charley. Bersama dengan kisah remaja Charley, hadirnya sosok Bonnie (Sevigny) dan Del (Buscemi) yang berbeda generasi juga memberi perenungan realistis atas pilihan hidup. And yes, sometimes we are just like Charley, we just want to feel that we belong.

Rotten Tomatoes: 92% (124 critics)

#leanonpete #morondrama #moronadventure #growup #remaja #moronpete

Review Film Wildlife (2018)


moronmovie THE CRIMINALLY UNDER-WATCHED DIAMOND OF 2018

Saya sudah jatuh cinta dengan film ini dari awal. Nuansa pasif-agresif sekaligus hangat di keluarga ini seakan menegaskan kedalaman emosi yang akan dihadirkan cerita. Penonton sebetulnya hanya diminta mengikuti keluarga seorang asisten golf bernama Jerry (Gyllenhaal) beserta istri, Jeanette (Mulligan), dan anaknya, Joe (Oxenbould). Ketika Jerry kehilangan pekerjaan, potret keluarga kecil ini mulai retak pelan-pelan.

3 tokoh utama film ini ibarat sedang berusaha lepas dari belenggu. Menyaksikan mereka mengupas sisi lain karakter masing-masing terasa begitu bittersweet – Jerry dengan kegagalanya, Jeanette dengan ketidakpuasan dirinya, dan Joe dengan dilema benar-salah dalam menyaksikan orang tuanya berkonflik. Bersama, 3 tokoh kompleks ini terasa seperti ticking bomb. Ketika benar-benar meledak, latar suasana yang ada terasa begitu intens sekaligus melegakan – seakan menjadi katarsis dari segala beban. Beruntung, porsi pergolakan batin masing-masing diberi penekanan yang sama, tidak ada tokoh yang terasa setengah matang. Saya juga perlu memberi shout-out pada Oxenbould. Gerak-gerik kecil pada wajahnya sudah bisa mengajak penonton berdialog. Pun dengan Mulligan yang menampilkan luka dengan "liar" namun tetap elegan.

Sebagai sutradara baru, Dano terlihat banyak bereksperimen dengan kamera. Uniknya, hal ini tidak terasa berlebihan. Saya bahkan ingat beberapa intense close-ups, satu wide shot, dan satu bird view.  Kenapa bisa? Sederhana saja, ada emosi di dalamnya. Dano juga jelas tampak hati-hati memasang musik. Ditemani dengan sound effect yang aktif hadir di latar, scoring terkadang tampil tiba-tiba namun tepat waktu, efektif mendukung adegan. Beberapa orang mungkin akan mengatakan Dano terlalu kaku pada formula. Bagi saya, hal ini ampuh sebagai pembatas agar film ini tidak menjadi terlalu dramatis. Bagian ending? Duka dan harapan bercampur dengan indah.

Saya tidak tau kenapa film ini tidak diperbincangkan secara lebih luas. Satu hal yang pasti, film ini tidak layak untuk kalian lewatkan. One of the best gems of 2018!

Rotten Tomatoes: 94% (178 critics)

#wildlife #morondrama #family #brokenhearted #divorce #pauldano