25 Juli, 2020

Review Film Roma (2018)


AN EMOTIONALLY AFFECTING MASTERPIECE

Passion project Alfonso Cuaron ini mengingatkan saya pada Moonlight (2016), amat membekas hingga pikiran saya menolak untuk menyebutnya fiksi. Untuk Roma, percayalah pada hype.

Kemasan luar film ini jelas tertampil begitu indah. Sinematografi hitam putih, color grading, dan camera movement film ini langsung menangkap atensi kita dari awal, suka tidak suka. Masuk ke dalam cerita, kita akan menyaksikan rangkaian episode pergolakan batin dari sebuah keluarga menengah ke atas di Mexico City tahun 1970, sebagian besar melalui sudut pandang sang ART, Cleo (Aparicio). Meski berbekal bukan aktor profesional, tiap frame terasa tak berbatas. Saya merasa ada di sudut ruang dan jalanan, tertawa ketika mereka merayakan suka, dan siap memeluk ketika mereka berduka.

Pace yang cukup lambat dan musik yang tidak menggelegar memang membuat film women-centric ini terdengar sunyi. Sebetulnya, cerita Roma begitu bergemuruh. Baik Cleo dan sang tuan rumah Sofia (de Tavira) memang memilih untuk berduka dalam diam. Namun, gerak-gerik dan mimik mereka lugas mengguratkan luka. Dinamika unik juga hadir pada kehidupan 4 anak Sofia. Naifnya pikiran anak-anak dihadapkan pada realita yang terkadang terlalu pahit, dan kita ada pada baris pertama menyaksikan reaksi mereka. Satu long take pada klimaks film ini begitu magis. Dimulai dari build-up, naiknya intensitas momen, dan ditutup dengan sebuah reaksi yang begitu manusiawi, adegan ini adalah salah satu cinematic moment terbaik saya, baik dari sisi estetika maupun kekuatan emosi.

Sebagai pecinta premis 'the maid & the master', saya suka pendekatan realistis Cuaron. Meski Cleo begitu dicintai, beberapa kali Cuaron menegaskan bahwa isu kelas tidak akan hilang hanya karena mereka tinggal satu atap, dan itu menyedihkan. Beberapa adegan seperti gempa bumi, kebakaran hutan, dan reka ulang Corpus Christi Massacre pun efektif mempertegas makna dan latar suasana film.

Salah satu standar tertinggi perfilman adalah membuat penonton merasakan apa yang sang sutradara rasakan. Bagi saya, Roma melampaui kriteria itu dengan amat mudah.

Rotten Tomatoes: 96% (290 critics)

#roma #netflix #morondrama #family #sad #pain

0 komentar:

Posting Komentar