26 Juli, 2020

Review Film Raise the Red Lantern (1991)


A MASTERPIECE THAT EVERY FEMINIST WILL HATE

Zhang Yimou adalah master perfilman Asia yang mungkin dikenal lewat Hero (2002) dan House of Flying Daggers (2004). Namun, era keemasan Zhang menurut saya adalah jaman 90an ketika dia terus mengeksplorasi isu patriarki di China, tanpa ampun.

Pada Raise the Red Lantern misal, film ini langsung dibuka dengan ide bahwa perempuan hanyalah pelayan laki-laki. Mirisnya, hal tersebut diucapkan oleh seorang gadis pintar bernama Songlan (Gong Li) yang terpaksa keluar universitas dan menjadi istri keempat dari saudagar kaya. Lambat laun ia menerima nasibnya dan ikut beradu intrik dengan selir-selir lain.

Sepintas, mudah untuk menganggap film ini hanya menjual visual cantik belaka dan cerita khas opera sabun, terlebih dengan musik yang memang sarat akan sentuhan opera China. Tonton dulu beberapa lama, saya yakin kita akan paham bahwa film ini sebetulnya dipenuhi dengan kegelisahan tentang posisi wanita. Perlakuan sang suami terhadap semua selirnya pun dibuat lugas namun sedikit menggelitik. Muka tuan tersebut tidak pernah ditampilkan jelas – sama halnya dengan tradisi, tidak tampak tapi minta dituruti.

Narasi film ini pintar menyetir power dynamic antara selir satu dan lainnya. Lama-kelamaan akan tampak bahwa satu-satunya jalan bagi mereka untuk bebas adalah dengan mengikuti kehendak sang kuasa, dalam hal ini laki-laki. Tidak melulu menyoal patriarki, film ini juga keras memprotes isu kelas sosial, terutama lewat tokoh Yan’er (Kong Lin). Saya jarang menangis karena film. Tapi, dua adegan yang melibatkan Yan’er dan Songlan sukses membuat air mata saya mengalir, bisa jadi karena terlalu nyata.

Fakta bahwa film ini hanya ber-setting di sebuah pemukiman China juga tidak menghentikan film ini terasa universal. Terlebih, naiknya alur film berbanding lurus dengan naiknya emosi. Menjelang adegan terakhir, ditambah dengan beberapa adegan yang tersebar dalam film, saya ikut merasa direndahkan, padahal saya bukan perempuan maupun feminist.

Betul, film ini bukanlah sekedar tontonan, namun juga pengalaman, yang sayangnya masih cukup relevan hingga kini.

Rotten Tomatoes: 96% (25 critics)

#morondrama #moronhistory #feminisme #perempuan

0 komentar:

Posting Komentar