28 Juli, 2020

Review Film Polytechnique (2009)


WHAT MADE A SCHOOL SHOOTER A SCHOOL SHOOTER?

Meski baru terdeteksi radar dunia lewat Incendies (2011), Denis Villeneuve sudah lebih dulu membidik kameranya pada isu konflik lewat Polytechnique, alias reka adegan atas Montreal Massacre 1989. Serupa dengan Elephant (2003), film ini menitikberatkan pada fakta permukaan atas suatu tragedi daripada analisa motif pelaku. Pilihan ini akan terasa "kentang" bagi sebagian orang karena ketiadaan character development dan alur yang jelas, namun film ini tetap terasa spesial bagi saya. Kenapa?

Pertama, sinematografi hitam putih tidak hanya mendukung nuansa kelam namun juga membuat Villeneuve lebih bebas menampilkan darah tanpa terkesan vulgar. Bidikan wide shot-nya pun mampu menangkap banyak kejadian dan pemain dalam satu frame, sesuai dengan sifat "chaotic" dari suatu tragedi. Kedua, 3 lakon utama yang bernama Valerie (Vanasse), perempuan ambisius, Jean-Francois (Huberdeau), teman laki-laki Valerie dan saksi mata, dan si peneror (Gaudette), penyendiri dan pembenci perempuan, adalah composite characters alias kumpulan dari banyak kepribadian/sifat yang ditampilkan dalam 1 tokoh. Artinya, back-story berlebih yang kadang justru melenceng tidak hadir di sini, pun begitu film ini masih sanggup mewakili isu feminisme, maskulinitas, dan mental illness. Ketiga, film ini tidak terasa mendramatisir dan melebih-lebihkan suasana. Selain tercermin lewat durasinya yang hanya 77 menit, score juga seadanya dan tidak dieksploitasi hanya karena film ini bertema penembakkan.

Terakhir, film ini "mentah". Jawaban headline di atas dan pertanyaan "kenapa" lain biarlah menjadi tugas media beserta narasumbernya. Film memiliki potensi untuk menempatkan penonton secara "in the moment" pada suatu peristiwa. Apakah orang-orang yang terlibat dalam situasi ini sempat memikirkan "kenapa"? Rasanya tidak, melainkan lebih kepada "ada apa ini?", "bagaimana untuk keluar?", "apa saya akan mati?" Jika kalian ingin lebih mendalami fenomena school shooting lewat karya audio-visual dan narasi semi fiksi, film penuh pujian ini lebih dari sekedar berhasil.

Rotten Tomatoes: 86% (14 critics)

#denisvilleneuve #schoolshooting #massacre #darah #hitamputih #kisahnyata

0 komentar:

Posting Komentar