09 Agustus, 2020

Review Film Capernaum (2018)


POVERTY PORN? THINK AGAIN

Banyak kritikus melabeli nominee Oscar ini manipulatif dan hanya mengeksplorasi kemiskinan demi perhatian. Tapi, bukankah topik ini bukan hal baru? Pun seingat saya City of God (2003) dan The Florida Project (2017) tidak mendapat perlakuan yang sama.

Capernaum memang berfokus pada beragam isu kemiskinan yang terasa begitu dekat, meski ber-setting di Lebanon. Tokoh utama yang akan memandu kita dalam cerita penuh emosi ini adalah Syrian refugee bernama Zain Al Rafeea (juga berperan sebagai Zain) – anak laki-laki dari keluarga super miskin namun memiliki banyak anak. Saya suka awal film ini yang langsung melempar misteri ke penonton. Pasalnya, Zain menuntut orang tuanya di pengadilan karena telah memberinya kehidupan. Kenapa?

Perjalanan menemukan jawaban pertanyaan di atas tidak akan mudah. Labaki seakan menolak menggunakan filter untuk menampilkan keadaan. Terlebih, hand-held camera kerap membuat saya lupa bahwa film ini bukanlah dokumenter. Zain, tanpa pengalaman akting, seakan menyatu dengan tokoh yang diperankan. Bahkan di beberapa scene saya merasa bahwa Zain tidak berakting, namum meminta tolong atas situasi yang secara nyata ia lalui.

Mulai dari isu imigrasi, child labour, hingga pernikahan dini, Capernaum memang terkesan terlalu penuh. Namun, saya tidak merasa adanya kesan ekploitasi di cerita. Jika iya, alur pasti akan dibuat cepat demi menjubali lebih banyak isu. Nyatanya, alur justru melambat di tengah untuk memperjelas konteks cerita, terutama pada tokoh bernama Tigesh (Shiferaw). Film ini peduli untuk memberi build-up yang cukup agar penonton siap menghadapi paruh akhir yang memang emosional, lengkap dengan final shot yang "speak louder than words". Alasan lain untuk menonton film ini adalah hadirnya bayi super menggemaskan bernama Yonas. Tingkah polahnya cukup mengalihkan kesan kelam sepanjang film.

Film memang bisa menghibur atau menampar para audiens. Capernaum jelaslah bukan kategori pertama. Mengingat film ini dibuat berdasar riset mendalam, para haters mungkin memang belum siap menerima realita.

Rotten Tomatoes: 89% (140 critics)

#morondrama #kemiskinan #filmsedih #mengharukan #lebanon #realita #kehidupan

0 komentar:

Posting Komentar