04 Maret, 2020

Julian Assange dan WikiLeaks, Pahlawan Ataukah Kriminal?

Julian Assange dan Wikileaks, Pahlawan Ataukah Kriminal?.jpg

Pemerintahan di setiap negara pasti punya beberapa informasi yang sengaja mereka simpan dan rahasiakan dari masyarakat dengan alasan tertentu. Beberapa informasi memang sangat sensitif dan akan membuat pemerintahan tersebut dipandang buruk oleh masyarakat bahkan bisa membuat masyarakat melakukan protes. Untuk membuat keadaan tetap kondusif kadang merahasiakan sebuah informasi atau kebenaran memang perlu, namun itu bisa saja mencederai keadilan bahkan kemanusiaan. Karena itulah ada beberapa pihak yang menyebarluaskan rahasia, informasi, dan skandal pemerintah sebuah negara, salah satunya adalah WikiLeaks.

Jika kita berbicara mengenai Wikileaks maka kita tidak akan terlepas dari salah satu sosok dibaliknya yaitu Julian Assange. Siapa itu Julian Assange dan apa itu WikiLeaks?

Siapa Julian Assange?

Julian Assange.jpg
Julian Assange

Julian Assange lahir dengan nama Julian Paul Hawkins pada 3 Juli 1971 di Townsville, Queensland, Australia. Ia adalah seorang editor, jurnalis, dan aktivis yang merupakan salah satu pendiri WikiLeaks. Julian sudah mendapatkan banyak penghargaan terutama di bidang jurnalistik. Ia juga adalah seorang hacker dan sempat menerima tuduhan kejahatan di dunia maya pada tahun 1991.

Christine Ann Hawkins dan John Shipton yang merupakan ibu serta ayah Julian berpisah sebelum Julian lahir. Ketika Julian berusia satu tahun Christine menikah lagi dengan Brett Assange yang lebih dianggap Julian sebagai ayah dimana ia menggunakan Assange sebagai nama belakang atau nama keluarganya.

Julian menikahi seorang wanita bernama Teresa dan pada tahun 1989 mereka dikaruniai anak bernama Daniel. Julian serta Teresa berpisah dan mereka sempat memperdebatkan hak asuh anak. Kabarnya Daniel bukan satu-satunya anak Julian, ada satu lagi anak Julian yang tinggal bersama ibunya di Prancis. Mereka kerap menerima ancaman pembunuhan dan pelecehan karena pekerjaan Julian.

Apa Itu WikiLeaks?


WikiLeaks adalah sebuah media massa yang menerbitkan informasi rahasia sebuah negara dan perusahaan melalui situs webnya. Situsnya dimulai pada tahun 2006 di Islandia oleh organisasi Sunshine Press dan pada tahun 2016 diklaim sudah mempublikasikan 10 juta dokumen dalam 10 tahun pertamanya, WikiLeaks juga selalu menang dalam sidang gugatan yang mereka jalani.

Pada awal kemunculannya hanya Julian yang diketahui sebagai pendiri WikiLeaks, sementara para pendiri lainnya merahasiakan identitasnya. Karena itulah Julian selain dianggap sebagai pendiri ia juga dikenal sebagai direktur WikiLeaks. Kabarnya para pendiri WikiLeaks yang lain enggan membeberkan identitasnya karena itu akan membahayakan keluarga mereka, sementara Julian saat itu tidak memiliki rumah serta keluarga atau setidaknya keluarganya tidak diketahui. Namun, saat ini keluarga Julian memang diketahui oleh publik terutama anak dan mantan istrinya yang ada di Australia tapi mereka sepertinya baik-baik saja.

Semakin kesini beberapa orang yang terlibat dalam WikiLeaks semakin membuka diri salah satunya Kristinn Hrafnsson yang diketahui menjabat sebagai pemimpin redaksi di WikiLeaks sejak September 2018.

Situs WikiLeaks beralamat di www.wikileaks.org. Pada tahun pertamanya, WikiLeaks menerima sebanyak 1,2 juta dokumen dan kini menerima 10 ribu dokumen setiap harinya. WikiLeaks selalu merahasiakan identitas para pengirim informasinya. Pada awal pendiriannya, situs WikiLeaks menggunakan mesin MediaWiki yang digunakan juga pada situs Wikipedia. Hal ini memungkinkan siapa saja menaruh dokumen pada situs tersebut tanpa diketahui identitasnya. Dokumen pertama yang dibocorkan oleh WikiLeaks adalah sebuah keputusan oleh Uni Pengadilan Islam Somalia yang mengharuskan pengeksekusian beberapa pejabat negara.

Pada awalnya, situs WikiLeaks menggunakan jasa layanan hosting yang disediakan oleh PRQ yang berbasis di Swedia. PRQ memberikan jasa hosting yang aman tanpa mempertanyakan atau menyimpan informasi mengenai kliennya. Setelah mendapatkan serangan DoS pada servernya, WikiLeaks pun beralih pada Amazon sebagai penyedia situs tersebut. Namun, Amazon memutuskan untuk berhenti menjadi penyedia situs WikiLeaks pada 1 Desember 2010, tiga hari setelah situs tersebut menerbitkan kawat diplomatik Amerika Serikat. Pemberhentian ini dilakukan atas permintaan Joe Lieberman, ketua Komisi Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Pemerintahan Amerika Serikat kepada Amazon. Joe pun menyarankan agar perusahaan ataupun organisasi lainnya mengikuti langkah Amazon yang memutuskan hubungan dengan WikiLeaks. Amazon menyatakan pemutusan hubungan tersebut dikarenakan WikiLeaks melanggar ketentuan pelayanan dari Amazon.

Markas utama WikiLeaks terletak di pusat data Pionen di Vita Bergen atau White Mountains di Stockholm, Swedia. Pionen dimiliki oleh Bahnhof, sebuah perusahaan penyedia jasa Internet dari Swedia. Sebelum dibuka kembali dan digunakan oleh Bahnhof pada 2008, Pionen merupakan bungker untuk Perang Dunia II. Pada 1970-an, bangunan tersebut merupakan tempat pengungsian yang akan dituju oleh pejabat pemerintahan Swedia apabila terjadi serangan bom hidrogen dari Soviet. Terletak 30 meter dibawah Taman Vita Berg, bangunan Pionen merupakan hasil karya arsitek Swedia Albert France-Lanord. Desain bangunan yang memiliki luas 1200 meter persegi tersebut terinspirasi dari film James Bond pada tahun 1960-an. Negara Swedia dipilih sebagai lokasi dari markas WikiLeaks dikarenakan hukum negara tersebut yang mendukung kebebasan pendapat. Di Swedia, otoritas tidak dapat mempertanyakan sumber dari suatu cerita dan WikiLeaks maupun orang-orangnya tidak dapat diadili karena menyebarkan informasi yang sensitif.

Informasi-Informasi yang Sudah Dibocorkan Wikileaks


Seperti yang dijelaskan di atas kalau WikiLeaks sering membocorkan informasi-informasi rahasia ke publik, terutama informasi rahasia negara. Salah satu informasi yang paling membuat nama WikiLeaks dikenal luas adalah sebuah video penembakan oleh militer Amerika yang menaiki helikopter apache di Baghdad. Dalam penembakan tersebut para tentara Amerika menargetkan para warga sipil yang jelas saja melanggar kemanusiaan. Selain warga sipil ada juga dua reporter Reuters yakni Saeed Chmagh dan Namir Noor-Eldeen yang turut menjadi korban. Video yang diberi judul Collateral Murder itu dirilis ke publik oleh WikiLeaks pada 5 April 2010 sementara kejadian di video diketahui terjadi pada 12 Juli 2007. Laporan bervariasi untuk jumlah korban meninggal dari penyerangan tak manusiawi ini antara 12 sampai 18 orang. Bocornya video ini membuat dunia memprotes pihak Amerika dan mempertanyakan moralitas atas penyerangan tersebut.

Para penembak terdengar tertawa saat sedang meluncurkan tembakan tersebut. Mereka juga meneriakkan kata "bakar mereka" dan "terus menembak, terus menembak".

Rekaman itu diberikan kepada Julian oleh mantan tentara Angkatan Darat Amerika Serikat, Chelsea Manning. Akibat aksinya itu Chelsea dipenjara dari tahun 2010 sampai 2017 ketika hukumannya mendapat keringanan. Namun, Chelsea kembali harus mendekam di penjara karena menolak bersaksi saat sidang melawan Julian.

Pihak Amerika mengatakan kalau saat itu para penembak salah melihat kamera yang dibawa reporter Reuters sebagai senjata jenis peluncur roket. Namun, orang-orang masih mempertanyakan bagaimana bisa para tentara yang sudah berpengalaman tidak bisa membedakan mana kamera mana peluncur roket. Pihak Amerika sudah menolak untuk memberikan hukuman pada para penembak.

Selain video, WikiLeaks juga membagikan banyak informasi-informasi rahasia Amerika Serikat diantaranya 92 ribu dokumen terkait Perang Afganistan dan 400 ribu dokumen terkait Perang Irak. Dokumen-dokumen tersebut mengungkapkan ratusan penduduk sipil yang meninggal dalam insiden yang tidak dilaporkan, badan intelijen Pakistan yang diduga membantu Taliban dan ketakutan NATO akan kemungkinan Pakistan dan Iran menginisiasi pemberontakan. Gedung Putih Amerika merespon hal ini dengan mendorong WikiLeaks agar berhenti membocorkan dokumen tersebut karena dapat membahayakan keamanan nasional Amerika Serikat.

WikiLeaks pernah menerbitkan data rekening milik 2000 orang terkemuka yang terdaftar di Bank Julius Baer cabang Kepulauan Cayman. Bank Julius Baer merupakan sebuah bank swasta berbasis di Zurich, Swiss yang telah berdiri sejak 1890. Data yang diterbitkan berasal dari periode 1990-2009 dan mencakup rekening milik perusahaan multinasional, perusahaan keuangan, dan orang-orang kaya dari banyak negara termasuk dari Inggris, Amerika Serikat, dan Jerman. Walaupun tidak diketahui secara pasti aktivitas apa yang terdapat dalam data tersebut, perwakilan WikiLeaks menyatakan bahwa data tersebut telah mengungkapkan penghindaran pajak, penyembunyian tindak pidana, pencucian uang dan perlindungan aset bagi mereka yang tidak akan terlindungi lagi oleh politik.

WikiLeaks juga mempublikasikan dokumen yang memuat informasi mengenai 764 tahanan di Penjara Guantanamo, Kuba. Dokumen tersebut diserahkan juga kepada The Telegraph dari Inggris pada 25 April 2011. Dari dokumen tersebut diketahui bahwa ada beberapa tahanan yang tidak mendapatkan perawatan medis yang memadai dan beberapa orang juga dipenjara di sana tanpa alasan yang jelas.

Ada kawat diplomatik Amerika Serikat dan beberapa negara lain yang juga ikut dibocorkan. Kawat diplomatik atau kabel diplomatik adalah pesan rahasia yang dikomunikasikan antara sebuah misi luar negeri (seperti kedutaan besar atau konsulat) dengan pemerintah (terutama kementrian luar negeri) di negara asalnya.

Kawat diplomatik tersebut mengungkapkan bahwa Amerika Serikat memata-matai Sekretaris Jenderal PBB saat itu Ban Ki-moon dan perwakilan Dewan Keamanan PBB lainnya juga menggambarkan Kanselir Jerman Angela Merkel sebagai orang yang kurang kreatif, sementara Presiden Prancis Nicolas Sarkozy digambarkan sebagai orang yang rentan dan otoriter. Presiden Barack Obama dinasihati bahwa dukungan Sarkozy untuk perang di Afganistan dapat diamankan dengan menggunakan "sanjungan". Partai Konservatif Inggris juga merasa malu dengan kebocoran kawat diplomatik ini, di mana mereka diketahui menjanjikan untuk menjalankan rezim pro-Amerika dan membeli lebih banyak senjata dari Amerika Serikat jika mereka berkuasa.

Berikut beberapa informasi paling menghebohkan lainnya yang dibocorkan WikiLeaks;
- Email Hillary Clinton yang membuktikan tokoh partai senior telah bersekongkol untuk memastikan Senator Bernie Sanders tidak memenangkan nominasi.
- Dokumen CIA Vault 7 yang menunjukkan sejauh mana kemampuan agen mata-mata Amerika Serikat untuk meretas ponsel cerdas, TV pintar, dan aplikasi pesan media sosial seperti WhatsApp.
- Dokumen yang menunjukkan Amerika Serikat menggunakan IMF dan Bank Dunia sebagai "Senjata Keuangan" untuk merusak ekonomi negara yang pemerintahannya tidak patuh pada Amerika Serikat.
- Alkitab rahasia Gereja Scientology.
- Seribu email yang dikirim oleh staf di Climatic Research Unit (CRU) yang membuktikan beberapa ilmuwan terlibat penipuan memalsukan perubahan iklim untuk membantu memperkuat argumen bahwa pemanasan global adalah hal nyata dan buatan manusia.
- Blacklist situs internet di Australia.
- Dokumen soal dampak kesehatan dari pembuangan limbah di Afrika yang sempat dihalang-halangi publikasinya oleh perusahaan perdagangan minyak Trafigura.
- Data 13.500 anggota British National Party (BNP).
- Puluhan ribu dokumen dan email curian pada April 2015 yang mengekspos hubungan Sony dengan kalangan politik.

Lalu, apakah ada data yang dibocorkan WikiLeaks yang menyeret nama Indonesia? Jawabannya ada.

Memang ada beberapa informasi yang dipublikasikan WikiLeaks yang ikut membawa nama Indonesia. Informasi tersebut adalah kawat diplomatik Amerika Serikat yang berkaitan dengan Kedubes Amerika Serikat di Jakarta. Kawat diplomatik yang jumlahnya mencapai 3.059 dokumen tersebut tercatat sejak era Presiden Soeharto sampai Presiden SBY. Informasi-informasi tersebut menggunakan kode khusus untuk menandakan tema yang sedang dibicarakan, kode tersebut antara lain PTER, PREL, PGOV, PHUM, KTIP, KCRM, KWMN, SNIG, KFRD, ASEC, PREF, ELAB, dan KMCA. Belum semua kode bisa dipecahkan, namun ada juga yang sudah dipecahkan.

PTER adalah kode untuk isu terorisme, PREL kode untuk hubungan diplomatik dengan luar negeri, sementara PGOC menyangkut permasalahan dalam negeri. PHUM adalah untuk tema Hak Asasi Manusia. Artinya ada kasus-kasus pelanggaran HAM yang dibongkar WikiLeaks. Ada juga ELAB yang terkait dengan isu-isu buruh dan tenaga kerja. Sedangkan PREF adalah soal pengungsi. Yang tentunya akan menarik adalah dokumen Kedubes Amerika Serikat di Jakarta bertema ASEC. Ini adalah isu pertahanan.

Isu terorisme menjadi perhatian AS sejak zaman Presiden Soeharto. Hal ini terlihat dari kode PTER yang muncul dalam dokumen sejak tahun 1990 sampai akhir 1998. Sementara pada saat Pemilu tahun 2004 dan tahun 2009 kode PGOV atau pemerintahan yang lebih banyak muncul. Tanggal terakhir yang dimunculkan oleh WikiLeaks tentang Kedubes Amerika Serikat di Jakarta adalah 27 Februari 2010. Isu-isu pertahanan juga muncul cukup dominan, terutama pada era presiden SBY di tahun 2009-2010.

Baca juga: Kasus-Kasus Peretasan Hacker Paling Menggemparkan

Pahlawan Ataukah Kriminal?


Pahlawan ataukah kriminal? Itulah pertanyaan yang menyelimuti WikiLeaks serta Julian. Apakah mereka lebih layak disebut pahlawan ataukah kriminal? Setiap orang punya pendapat masing-masing terkait hal ini. Untuk pihak yang informasinya dibocorkan seperti pemerintah tentu saja akan menganggap WikiLeaks sebagai kriminal namun di mata rakyat biasa WikiLeaks adalah pahlawan. Karena saya hanyalah rakyat biasa maka sudah jelas saya berada di sisi orang-orang yang menganggap Wikileaks serta Julian sebagai pahlawan. Apa yang dilakukan WikiLeaks semakin membuka mata kita terhadap banyaknya ketidakadilan di dunia ini, ironisnya pihak-pihak seperti pemerintah yang seharusnya menegakkan keadilan yang justru melakukan hal tersebut. Lebih parahnya hal tersebut juga sengaja disembunyikan oleh mereka dari kita para rakyat agar semuanya tampak baik-baik saja.

WikiLeaks saat ini masih ada dan bisa kalian kunjungi di www.wikileaks.org. Artikel terakhir yang dipublikasikan WikiLeaks tercatat pada 23 Oktober 2019.

Sementara Julian saat ini sedang menjalani hukuman penjara 50 minggu di HMP Belmarsh, Inggris. Julian ditangkap setelah bersembunyi di kedutaan Ekuador di Inggris selama kurang lebih tujuh tahun sejak mendapatkan suaka dari Ekuador pada 2012. Amerika Serikat juga mendesak Inggris untuk melakukan ekstradisi Julian ke Amerika Serikat agar Julian bisa diadili di Amerika Serikat atas tindakan membocorkan rahasia negara. Namun sepertinya ekstradisi tersebut tidak kunjung terjadi dan Julian masih mendekam di penjara di Inggris.

Selain Amerika Serikat, Swedia juga meminta ekstradisi Julian karena Swedia memutuskan kembali membuka kasus pelecehan seksual yang dilakukan Julian di Swedia. Kasus tersebut sempat ditutup setelah Julian mendapatkan suaka dari Ekuador.

Pada masa pemerintahan presiden Rafael Correa, Ekuador memang berpihak pada Julian. Namun, setelah pemerintahan berganti dan presiden Ekuador sekarang adalah Lenin Moreno, Ekuador terlihat lebih pro terhadap Amerika Serikat karena itulah mereka mencabut suaka Julian dan membiarkan kepolisian Inggris menangkapnya. Tapi, presiden Lenin meminta Inggris agar tidak mengektradisi Julian ke negara dimana ia akan mendapatkan penyiksaan atau hukuman mati dan Inggris sepertinya sudah menyetujui hal tersebut.

Sumber referensi:
www.wikipedia.org
www.m.liputan6.com
www.cnbcindonesia.com
www.dunia.tempo.co
www.suara.com
www.m.detik.com
www.internasional.kompas.com
www.m.cnnindonesia.com

Sumber gambar:
www.wallhere.com
www.matamatapolitik.com

0 komentar:

Posting Komentar