Desember 15, 2019

Review Film Shazam! (2019)


DC HAS STEPPED UP THEIR GAME

Setelah meraup kesuksesan fantastis melalui Wonder Woman (2017) dan Aquaman (2018), DC nampaknya telah menemukan formula jitu untuk lepas dari kutukan “tomat busuk”. Demi melanjutkan estafet kesuksesan sebelumnya, kali ini DCEU mencoba pendekatan yang “lebih familiar” melalui Shazam!

Billy Batson (Angel) adalah bocah bengal yang gemar melarikan diri dari panti asuhan untuk mencari ibunya. Kepercayaan bahwa ibunya masih di luar sana menantinya, membuat Batson enggan menerima keluarga manapun yang mengasuhnya. Hingga suatu hari peristiwa magis menimpanya yang membuat ia berubah menjadi sosok pahlawan yang mewarisi kekuatan sihir bernama Shazam (Levi). Peristiwa itu membuatnya mau tidak mau meminta bantuan pada Freddy (Grazer) dan keluarga barunya. Serangkaian peristiwa kocak pun mengiringi kisah Batson dan Freddy dalam mengeksplorasi kekuatan Shazam. Namun tanpa mereka sadari, ancaman musuh sedang mengintai mereka.

Alih-alih berpegang teguh dengan kesan kelam dan seriusnya, DCEU belakangan mencoba menjangkau lebih banyak penonton dengan narasi film superhero yang lebih disukai masyarakat kebanyakan. Cerita yang lebih ringan, humor yang kental, serta lebih family-oriented menjadi suguhan utama film ini. Sulit untuk tidak menyukai Shazam! bahkan jika anda bukanlah fanboy. Humor satir yang dibawakan sungguh mengocok perut penonton. Selain itu, kharisma Zachary Levi dalam menampilkan persona Shazam begitu apik. Kenakalan dan konflik remaja yang dinarasikan melalui karakter Batson dan Freddy serta hubungan mereka dengan keluarganya menjadikan film ini begitu hangat dan relatable. "Kejutan menarik" pun menambah serunya film ini. Kesemuanya itu menjadikan Shazam! menjadi film yang sangat menyenangkan untuk dinikmati segala kalangan.

DCEU telah menemukan jalannya, meski masih dengan bermacam ketidakpastian teknis, mereka dengan pasti membawa para jagoan superhero mereka ke arah yang benar. Persaingan di ranah film superhero pun semakin seru untuk ditunggu. Let’s grab a popcorn and watch them collide!

#SHAZAM! #DC #DCEU #nowshowing #superman #billybatson9

Review Film Shoplifters (2018)


#JAFF2018

DOES GIVING BIRTH MAKE YOU A MOTHER?

Shoplifters menjadi salah satu film yang paling berisik gaungnya di ranah internasional tahun ini. Bisa jadi karena akhirnya dunia sadar betapa pintarnya Kore-eda menyentuh berbagai dimensi emosi lewat narasi yang subtil dan terkesan tidak ada apa-apa.

Tidak ada yang baru di sisi tema, masih seputar keluarga, alias topik keahlian Kore-eda. Uniknya, cerita ini dibangun di atas premis yang abu-abu. Kita diminta mengikuti keluarga pengutil. Meski demikian, opening scenes yang berupa aksi mencuri di toko dan membawa pulang gadis kecil yang 'tersesat' efektif membangun simpati. Sepintas kita diperkenalkan dengan beberapa anggota keluarga yang dikepalai Osamu (Franky) sebagai ayah dan Nobuyo (Ando) sebagai ibu. Lambat laun kita diberi tau tentang masing-masing tokoh sembari disajikan berbagai situasi kekeluargaan yang hangat, pula humor lucu yang sebelumnya tidak saya prediksi.

Bagi penonton yang belum terbiasa dengan Kore-eda, model eksplorasi dan membangun karakter ini akan terkesan membosankan. Adegan-adegan Kore-eda lebih bermakna untuk dirasakan 'in the moment', bukan sekedar batu loncatan ke alur atau twist. Bagi saya, 30 menit terakhir film ini adalah bintang utamanya. Banyak kesunyian, close-up, dan akting memukau. Kore-eda juga banyak menantang penonton lewat pertanyaan yang dilontarkan, baik secara tersurat ataupun tersirat. Melihat resolusi tiap tokoh, penonton yang sudah terlanjur memiliki koneksi dengan keluarga ini seakan dipaksa terlibat dalam konflik. Kita menyaksikan sendiri interaksi keluarga tersebut secara intens, maka ketika pihak ketiga memposisikan mereka dengan lain, hati kita pun terusik. Adakalanya saya lega, namun bohong jika saya tidak bilang iba dan putus asa.

Persis dengan Moonlight (2016), saya menjadi terlalu peduli pada tokoh di film ini. Dengan ending yang tidak memanjakan penonton, saya masih ingin mengetahui kabar Yuri (Sasaki), anak yang 'diselamatkan' Osamu. Tau kenapa? Karena hanya film terbaik dari yang terbaik yang bisa menyentuh penonton sampai taraf ini.

Rotten Tomatoes: 99% (116 critics)

#shoplifters #morondrama #family #warmth #keluarga #mother #pekansinemajepang

Desember 14, 2019

Review Film Silenced (2011)


THERE'S NO JUSTICE IN THE WORLD UNLESS WE MAKE IT

Saya mulai setuju bahwa headline kejam diatas benar, tidak ada keadilan ideal di dunia ini, film ini menegaskan hal tersebut. Apa yang saya rasakan setelah menonton film ini? Amarah tidak berkesudahan. Mengapa? Film adaptasi novel best seller yang bersumber dari kisah nyata ini benar-benar meremukan hati. Dari awal hingga akhir, suasana kelam dan menyedihkan langsung menyedot kebahagiaan penonton, bahkan kharisma hangat Gong Yoo tidak cukup membuat rasa bahagia hadir.

Silenced menceritakan tentang usaha seorang guru dan seorang aktivis membongkar kasus pelecehan seksual yang dilakukan kepada anak-anak di sekolah berkebutuhan khusus. Kejahatan seksual ini begitu rapi tertutup bertahun-tahun, terstruktur, dan melibatkan banyak pihak. Saya merasakan amarah dan frustrasi ketika anak-anak manis tidak berdosa ini divisualisasikan menerima perlakuan tidak manusiawi, beberapa adegan membuat bulu kuduk saya merinding. Makin menyakitkan jika mengingat kisah ini diadaptasi dari kejadian nyata.

Cara bertutur sang sutradara, Dong Hyuk Wang, begitu kelam. Dia paham bahwa detail kecil disetiap event mampu membangun simpati penonton terhadap keseluruhan cerita. Maka secara perlahan, penonton dibuat menyayangi ataupun membenci seorang tokoh melalui rangkaian komunikasi non verbal, interaksi halus atau potongan momen sederhana, sebelum akhirnya meremukan batin lewat punch line kejadian yang menyulut pelatuk emosi. Lebih lanjut, film ini mengusung misi kemanusiaan yang penting.

Kenapa anda harus menonton film ini? Karena film ini adalah contoh sebuah pergerakan kemanusiaan melalui film. Dua bulan setelah film ini release, demonstrasi besar-besaran dilakukan oleh masyarakat, memaksa kasus kelam yang telah lama dikubur pengadilan kembali dibuka hingga akhirnya sekolah tempat kejadian perkara benar-benar ditutup oleh pemerintah setempat. Mungkin benar apa yang dikatakan Petyr Baelish, there's no justice in the world unless we make it.

#Silenced #Gongyoo #morondrama #reviewfilm #filmkorea #dramakorea #children #humanity #korea #moronsilenced

Review Film The Favourite (2018)


SENSUAL, MYSTERIOUS, AND FUNNY

The Favourite bisa dibilang adalah film Yorgos Lanthimos paling waras. Bukannya ber-setting di dunia penuh keganjilan seperti biasa, setting justru mengambil kisah nyata tentang kerajaan Inggris tahun 1702. Cerita utamanya berfokus pada hubungan antara Quenn Anne (Colman) dan penasehatnya, Sarah (Weisz). Ketika istana kedatangan sepupu Sarah yang bernama Abigail (Stone), semua tidak lagi sama.

Satu hal paling terlihat adalah hilangnya akting deadpan khas Lanthimos. Hal ini bisa dipahami karena Lanthimos memang tidak terlibat dalam penulisan skenario. Film ini pun lucu, tapi seperti tidak berniat melucu. Maksudnya, jika biasanya adegan lucu didahului dengan build-up atau dibarengi dengan efek suara tertentu, film ini menyajikannya secara datar, tau-tau saya sudah tertawa. Meski demikian, sentuhan nyentrik Lanthimos tetap terlihat di berbagai polah tingkah tokoh dan scoring yang kerap menyita perhatian.

Hal paling menarik bagi saya adalah rumitnya sosok Anne – lemah secara fisik, tidak stabil secara mental. Di beberapa adegan, Colman secara mudah berganti mood dari penuh senyum menjadi "gila". Intrik dan power dynamic yang terjadi antara Anne, Sarah, dan Abigail pun tidak semata-mata seru. Semakin mendekati ending, semakin kompleks pula hubungan mereka. Tone film pun berubah dari sensual dan humoris menjadi emosional. Adegan final? Terkesan diam tapi sebetulnya berbicara banyak hal.

Tidak seperti Three Billboards (2017) yang kadang meyisipkan komedi di adegan serius, film ini memilih untuk memisahkan momen kapan harus tertawa dan serius – membuat cerita lebih enak diikuti. Saya pun merasa bahwa setiap tokoh bisa berperan sebagai protagonis sekaligus antagonis, tergantung bagaimana kita melihatnya. Betul, Lanthimos tetap membuat kita berpikir meski di atas kertas film ini tampak dangkal. Meski isu perang dan politik hanya terkesan sebagai pengisi dialog saja, paling tidak konteksnya masih mudah diikuti.

Secara keseluruhan, The Favourite adalah salah satu film 2018 yang begitu meninggalkan kesan mendalam.

Rotten Tomatoes: 94% (341 critics)

#moronbiography #moroncomedy #thefavourite #filmlucu #lucu

Desember 13, 2019

Review Film The Insult (2017)


WAR IS WHAT HAPPENS WHEN LANGUAGE FAILS

Pernah mendengar teori Butterfly Effect? Teori ini menjelaskan tentang perubahan kecil pada satu tempat dalam suatu sistem dapat memicu kekacauan dalam skala yang besar dan menyeluruh. Teori ini diterapkan Ziad Doueiri lewat premis yang langsung membuat jengkel dari awal, meramu cerita tentang sebuah pertengkaran antara dua lelaki menjadi kobaran konflik nasional yang begitu sensitif. Bagaimana bisa? Ya, apalagi jika bukan soal agama? Manusia menjadi begitu sensitif soal kepercayaan. Penonton Indonesia tidak lagi perlu diajari soal yang satu ini.

Kapan perdebatan dapat terlihat begitu intens? Film Timur Tengah punya dua alternatif favorit : setting rumah tangga dan persidangan. Anda sudah tau film ini mengarah kemana dari gambar yang kami tampilkan. Toni (Karam), seorang warga kristen Lebanon, terlibat pertengkaran dengan Yasser (Basha), seorang pengungsi muslim Palestina. Bermula dari adu mulut, berakhir dengan kontak fisik, dan dibumbui perseturuan pribadi dan provokasi agama, dua kubu pengacara membuat film ini sungguh intens.

Mungkin anda berpikir Moronmovie cukup sembrono memilih film ini pada momen ramadhan, belum lagi situasi panas akhir-akhir ini. Tapi percayalah, film dengan tema pertengkaran antar golongan ini justru secara ajaib mengajarkan nilai perdamaian. Bagaimana bisa? Silahkan nikmati script solid, akting memikat, dan hubungan unik 2 tokoh utama film ini. Terlepas dari sebuah plot twist yang mengganggu dan sedikit dramatisasi lebay, film ini sejatinya sungguh cerdas menjelaskan apa yang terjadi saat kedua golongan berkonflik dan bagaimana seharusnya saling memahami.

Dari Toni dan Yasser penonton diajak kembali merenung pertanyaan sederhana yang layak dilontarkan untuk kita semua. Saat jamaat gereja saudara kita diserang ketika beribadah, lalu sekumpulan orang memprovokasi bahwa tindakan keji tersebut berasal dari ajaran Muslim dan para Muslim yang terprovokasi membalas dengan amarah serupa, siapa yang menang? TERORIS. Siapa yang tersakiti? Kita semua. Mau sampai kapan kita begini? Semoga tidak lama.

Rotten Tomatoes: 89% (68 critics)

#Theinsult #morondrama #Lebanon #Palestine #Peace #moroninsult